fbpx
Tugas Pemakai Bahasa Adalah Memuliakan Bahasa

Tugas Pemakai Bahasa Adalah Memuliakan Bahasa

Hari ini, 28 Oktober 92 tahun yang lalu, Kongres Pemuda II bermuara pada sebuah kesepakatan untuk mengikat ikrar persatuan yang kini kita kenal sebagai Sumpah Pemuda. Momentum bersejarah yang kelak menjadi inspirasi utama bagi tumbuhnya kesadaran kebangsaan dan penyatuan begitu banyak elemen ke dalam sebuah negara bernama Indonesia.

Untuk mengenang dan memperbarui semangat Sumpah Pemuda tersebut, Kultural.id berbincang-bincang dengan penulis, jurnalis, dan penyair Hasan Aspahani, menyoroti salah satu unsur penting dalam ikrar Sumpah Pemuda, yakni bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Tugas pemakai bahasa, apalagi penulis, terutama puisi adalah memuliakan bahasa. Bukan sekadar memakainya – Hasan Aspahani

Bahasa Indonesia, menurut Hasan, adalah sebuah bahasa yang kuat. Kekuatan tersebut terletak pada sifatnya yang luwes dan sederhana. Dua hal ini yang dahulu secara alamiah membuatnya menjadi lingua franca.

“Bahasa Indonesia harus tetap dijaga agar seperti bahasa Melayu—akarnya dulu—yang memiliki  kemampuan  yang baik dalam menyerap dan mengadopsi istilah yang diperlukan  dari berbagai sumber, bahasa asing, bahasa daerah, juga dari akarnya sendiri yaitu bahasa Melayu itu sendiri,” demikian dituturkan Hasan Aspahani kepada Kultural.id.

Dalam pandangan Hasan, bahasa Indonesia sejauh ini telah membuktikan diri mampu berperan sebagai bahasa ilmiah, estetis, dan memenuhi fungsi utamanya untuk berkomunikasi baik secara lisan atau tulisan.

Ketika menyoroti adanya kecenderungan sekalangan orang muda yang pada kenyataannya lebih mahir dan lebih nyaman berkarya dengan menggunakan bahasa asing tinimbang bahasa Indonesia, termasuk misalnya dalam menulis lirik lagu, puisi, dan ketika berdiskusi di kanal-kanal media sosial dan sebagainya, Hasan Aspahani yang saat ini duduk sebagai anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta Periode 2020-2023 berpendapat bahwa mungkin hal tersebut memenuhi kebutuhan ekspresi mereka tetapi sebenarnya mereka rugi.

“Bahasa itu identitas yang mahal. Kita ini tak seperti negara jajahan di Amerika Latin yang hidup dengan menggunakan bahasa penjajah. Misalnya Chili yang menggunakan bahasa Spanyol. Seperti kata salah seorang pengarangnya, tiap kali menulis mereka terluka oleh sejarah penjajahan yangg tertinggal lewat bahasa penjajah,” terang penyair yang mengasuh blog video Juru Baca, media yang digunakan Hasan untuk berdiskusi dan ngobrolin puisi.

“Bagi saya, hal yang demikian itu merupakan parole pengguna bahasa. Tiap pengguna bahasa memiliki kebebasan untuk membentuk bahasa sendiri. Dengan berbagai motivasi personal. Pamer mungkin, atau memang nyaman dengan kosakata asing yang karena satu dan lain hal lebih terkuasai. Namun, bahasa Indonesia menurut saya sebagai langue (bahasa dalam tatanan idealnya) adalah bahasa yang kuat.”

Menurut Hasan, tugas pemakai bahasa, apalagi penulis, terutama puisi adalah memuliakan bahasa. Bukan sekadar memakainya. Penulis, lanjutnya, harus juga sadar bahwa ia adalah pembuka jalan baru menuju wilayah baru mewujudkan potensi baru bahasa.

“Semua bahasa dikembangkan dengan jalan begitu. Dan terus begitu. Wujud nyatanya adalah kehadiran dan diterimanya kosakata baru. Bahasa kita juga tumbuh, berkembang dan hidup sehat dengan cara begitu,” demikian tutup Hasan.

Simak juga wawancara Kultural.id dengan Linda Christanty dan Niduparas Erlang

0 thoughts on “Tugas Pemakai Bahasa Adalah Memuliakan Bahasa
  1. Bahasa Indonesia, Bergerak Bersama Zaman – Kultural.id

    […] juga wawancara Kultural.id dengan Hasan Aspahani dan Niduparas […]

    28 Oktober 2020 Reply
Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.