fbpx
“The Old Dancer Never Fade Away”, Farida Oetoyo Menari di Atas Panggung untuk Terakhir Kalinya

“The Old Dancer Never Fade Away”, Farida Oetoyo Menari di Atas Panggung untuk Terakhir Kalinya

Pementasan Koreografi Farida Oetoyo Berjudul Survival di GKJ 2007

Di dalam autobiografinya, Farida menuliskan pada tahun 2000 para penari senior menari di Gedung Kesenian Jakarta, pada sebuah panggung bertajuk “The Old Dancer Never Fade Away”. Farida Oetoyo tampil menari bersama Edy Sedyawati, Julianti Parani, Wiwik Sipala, dan  Sardono W. Kusumo yang menampilkan karya terbarunya. “Setelah puluhan tahun tidak menari, maka pertunjukan itu seperti semacam reuni bagi kami. Saya sendiri sudah berumur 50 tahun. Setelah pada usia 35 tahun saya tidak menari lagi karena cedera pada lutut, pada “The Old Dancer Never Fade Away” saya tampil menari lagi dan itulah untuk terakhir kali saya menari di atas panggung. Menari bagi orang-orang seperti kami adalah profesi yang kami kerjakan dengan penghayatan seumur hidup. Rata-rata kami sudah melakukannya sejak kecil. Kecintaan kepada seni tari sudah berakar dan mendarah daging, sehingga sampai tua walaupun sudah tidak menari di panggung lagi, kami menjadi guru tari dan begelut di bidang pertunjukan seni tari”, tulis Farida dalam autobiografinya.

 

Pesan Farida Oetoyo untuk Dunia Kesenian, Khususnya Seni Tari di Indonesia

Farida Oetoyo menuliskan sebuah pesan di dalam autobiografinya untuk perkembangan dunia seni tari di Indonesia.

Koreografi Berjudul Makan Siang karya Farida Oetoyo ditarikan oleh Nancy Hasan dan Sentot Sudhiarto 1977

“Idealnya orang-orang yang ingin belajar kesenian dan nantinya terjun sebagai profesional di bidang seni tari harus sudah dimulai sejak sekolah dasar. Mereka bersekolah formal sambil bersekolah seni di tempat yang sama, tidak perlu ke mana-mana sampai tamat SMA langsung melanjutkan ke Akademi Kesenian. Semuanya mestinya dibangun dan dibiayai oleh pemerintah. Memang mahal, dan pemerintah RI mengaku tidak punya dana, sedangkan kalau dikelola swasta maka akan memikirkan untung rugi. Paling tidak, pemerintah seharusnya memasukkan kesenian ke dalam kurikulum pembelajaran di sekolah-sekolah, jangan hanya dijadikan pelajaran ektra kurikuler. Sehingga seni tari tidak hilang dari negara bangsa ini. Tatkala mereka tamat sekolah sudah ada di dalam dirinya kesenian. Karena kesenian merupakan bagian dari penghalusan kejiwaan manusia. Menghidupkan pluralisme tidak perlu dengan doktrin-doktrin tapi dengan menghidupkan kesenian.”

Pementasan Koreografi Farida Oetoyo Berjudul Carmina Burana

 

Karya-Karya Koreografi Farida Oetoyo

Pementasan Koreografi Farida Oetoyo Berjudul Tok di tahun 2012

Farida Oetoyo meninggalkan jejak karya yang menjadi pakem dunia seni tari khususnya balet di Indonesia. Adapun koreografinya yang patut untuk dicatatkan, antara lain :

  • Angels in Colour (1959)
  • Proko (1970)
  • Rama dan Sinta(1972)
  • Sengketa (1972)
  • Carmina Burana (1974)
  • Koreografi untuk film Liku-Liku Panasnya Cinta (1976)
  • Maniera (1980)
  • Daun Pulus (1983)
  • Gunung Agung Meletus(1979)
  • Resume yang terdiri dari enam koreografi: Putih-Putih, Makan Siang, Kematian, Kenangan, Perkelahian, dan Tenang Kembali (1976)
  • Putih Lagi(1978)
  • Putih Kembali (1985)
  • Tok (1986)
  • Kontras
  • Makan Siang
  • Serdtse
  • Burung-burung (2001)
  • Survival (2007)
  • Kunti (2009)
Koreografi Berjudul Putih Putih karya Farida Oetoyo

 

Rama dan Sinta Drama Tari Kontemporer Karya Farida Oetoyo

Rama dan Sinta adalah drama tari karya Farida Oetoyo yang lahir pada tahun 1972. Ide garapan drama ini berangkat dari epos Ramayana. Merujuk pada karya Desertasi R. AJ. Siti Nurchaerani Kusumastuti yang berjudul “Perkembangan Koreografi di Indonesia: Suatu Kajian Karya Tari Kontemporer di Pusat Kesenian Jakarta – Taman Ismail Marzuki 1968-1987”. Farida Oetoyo dalam menggarap koreografi gerak Rama dan Sinta, ingin mencari corak dan ciri sendiri dengan mengembangkan gerak balet klasik. Hal ini karena koreografi Rama dan Sinta garapannya berangkat dari epos Ramayana yang ketimuran dan para penari dalam drama tari ini berasal dari berbagai latar belakang teknik tari. Farida Oetoyo kemudian dengan sengaja mengeksplorasi kekuatan dan keragaman teknik tari yang dimiliki para penari tersebut, kemudian meramunya menjadi koreografi gerak yang baru. Drama tari Rama dan Sinta tidak lagi sesuai dengan teks dalam epos Ramayana Indonesia. Dalam karyanya, Farida Oetoyo melakukan penafsiran terhadap yang sudah tertera dalam teks. Farida Oetoyo memilih menggunakan logikanya, keluar dari logika realitas umum dalam situasi dan kondisi kehidupan manusia pada masa karya tersebut digarap.

Menurutnya, logika tersebut merupakan pantulan kehidupan berkeluarga sepanjang zaman. Di sinilah pemikiran Farida bisa dikatakan kontemporer karena keluar dari teks tradisional dan diaktualisasikan ke masa kini.

Dalam autobiografinya Farida menuliskan, “Saya keluar dari pakem mengenai Rama yang menguji kesucian Sinta yang telah delapan tahun ditawan Rahwana. Rama membakar Sinta. Sebab itu ketika Rama menguji kesucian Sinta dengan upacara pembakaran, saya menggambarkan raga Sinta hangus terbakar. Tapi, meskipun raganya hangus dan mati, sukma Sinta yang suci tetap abadi mengikuti Rama ke mana pun suaminya itu pergi. Kesucian sukma inilah yang saya pertahankan.”

 

Filmografi Farida Oetoyo

Selain menari dan menciptakan koreografi, Farida Oetoyo pernah juga merambah blantika film nasional. Ia mampir di dunia film atas ajakan sineas Sjumandjaja. Ia membintangi beberapa film layar lebar antara lain:

Farida Oetoyo di lokasi syuting film Palupi

Apa Jang Kau Tjari, Palupi? (1969)

Perawan di Sektor Selatan (1971)

Dendam Si Anak Haram (1972)

Mama (1972)

Lingkaran Setan (1972)

Bumi Makin Panas (1973)

 

Selamat Jalan Farida Oetoyo

Farida Oetoyo meninggal di Jakarta, 18 Mei 2014 di usia 74 tahun. Selama hidupnya Farida menikah dua kali. Pertama dengan Sjumandjaja pada 2 Juni 1962 di Moskow.

Pernikahan Farida Oetoyo dan Sjumandjaja 2 Juni 1962

Farida Oetoyo, Sjumandjaja dan Yudistira

Berpisah dengan Sjumandjaja kemudian Farida menikah dengan Feisol Hashim pada tahun 1975 di Kuala Lumpur. Pada 1985, di usia 46 tahun Farida berpisah dengan Feisol Hashim dan memutuskan untuk tidak menikah lagi.

Farida Oetoyo Bersama dengan Keluarga Mahatir Mohammad di Kuala Lumpur

Buah dari pernikahannya dengan Sjumandjaja, Farida Oetoyo melahirkan dua putra. Putra pertama bernama Arya Yudistira Sjuman, lahir pada 11 November 1968 dan putra kedua bernama Sri Aksan Sjuman, lahir pada 22 September 1970.

Farida Oetoyo Bersama Yudistira

Pada tahun 1998, Yudi Sjuman, Aksan Sjuman serta Chendra Effendy Panatan, membentuk dance company Kretivität Dance Indonesia (KDI) di dalam sekolah balet Sumber Cipta.

Aksan Sjuman Putera Kedua Farida Oetoyo

Bersama KDI, Farida beserta kedua anaknya, terlibat dalam berbagai pementasan. Yudi Sjuman untuk koreografi dan Aksan Sjuman menggarap musiknya. KDI menyatukan ketiganya dalam karya bersama.

Di dalam Epilog buku aotubiograinya Farida menuliskan untaian kata,

“I am 74 years and my sons have become men and have their own responsibility in life. They are my closest friends and it is wonderful to have your children as your friends. My strength is still with me I hav’nt given up on life because I am still in command of my body but one day when my body will fail me, that’s when I will say goodbye to life and maybe come back again sometime in my next life to be a better person. If God does exist, then God has always been with me right through my life”.

Artikel terkait Farida Oetoyo Lainnya

Lutfi Dananjaya
Penulis Lepas. Alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjajaran.

Reda Gaudiamo
Seniman dan Sastrawan. Penulis novel “Na Willa“.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.