fbpx
Padusi, Tiga Kisah Ironi

Padusi, Tiga Kisah Ironi

Onde mande, rancak banaAmbo ada taksi, ada oto pribadi. Pilihlah saja,” seru si Sopir Taksi (Muhammad Zulfikar Azhari) ketika melihat kecantikan sang perempuan kota.

“Terakhir kali pulang kampung sepuluh tahun silam. Semua sudah berlalu. Usia pun sudah tak muda belia. Hidup sudah menjanda pula,” tutur Padusi (Marisa Anita), membuka lakon Padusi yang dipentaskan di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 11-12 Mei 2013 yang silam.

Legenda Drama Tari (Legendra) persembahan Daya Lima bersama Yayasan Bunda dan didukung oleh Djarum Apresiasi Budaya ini kaya akan hal-hal yang penting untuk direnungkan. Pada saat yang sama juga menyegarkan  karena menggabungkan seni teater, olah vokal, dan tari.

Sejumlah nama yang telah dikenal di ranah seni pertunjukan terlibat dalam Padusi. Pertunjukan ini diciptakan oleh maestro tari Tom Ibnur, Guru Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang. Sementara itu, posisi sutradara diisi oleh Rama Soeprapto, yang sebelumnya menjadi asisten sutradara Robert Wilson dalam pertunjukan I La Galigo. Dan, Nia Dinata sebagai penulis naskah.

Artis Jajang C. Noer, Niniek L. Karim,  Sha Ine Febrianti, Arswendy Nasution, penyanyi legenda Minang Elly Kasim, beserta jajaran 50 orang musisi dan penari yang sebagian didatangkan khusus dari ISI Padangpanjang dan Bukittinggi ikut memeriahkan pementasan besar ini.

Melalui program #TeaterDiRumahAja, pagelaran Legendra Padusi dapat kita  nikmati kembali melalui live streaming di laman daring indonesiakaya.com dan kanal Youtube Indonesia Kaya hari ini dan besok, 10 dan 11 Oktober 2020, pukul 15.00 WIB.

Dalam pertunjukan ini, Tom Ibnur menampilkan sosok perempuan urban Jakarta bernama Padusi, yang menemukan inspirasi lewat tiga legenda perempuan dari Ranah Minang.

Dikisahkan Padusi bersiap menjalani hidup baru setelah bercerai dari suaminya, tanpa dikaruniai anak. Ia merasa bahwa ini saat yang tepat baginya untuk menjelajahi tanah kelahiran nenek moyangnya, apalagi selama hampir sepuluh tahun terakhir, ia ternyata belum bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya di kedalaman dirinya. Hidup ia jalani berdasarkan keinginan orang tua dan mantan suaminya semata.

Legenda pertama, adalah kisah tentang tujuh putri dari kayangan turun ke danau, di sana mereka bermain dan menari. Namun, salah satu dari putri-putri kayangan itu patah sayapnya sehingga tak bisa kembali ke kayangan. Putri Bungsu (Sha Ine Febriyanti) namanya. Dia lalu menikah dengan seorang pemuda setempat bernama Malin Deman (Riyano Viranico). Dalam bagian cerita ini, Ibu Malin, Mandeh Rubiah diperankan dengan sangat apik oleh Jajang C. Noer.

Kisah (legenda) kedua tentang Siti Jamilan (Sha Ine Febriyanti), seorang istri yang setia kepada suaminya, Lareh Simawang (Andi Jagger). Mereka memiliki dua orang anak. Namun, bahtera perkawinan mereka tak berlayar dengan mulus. Lareh berpaling pada perempuan lain yang membuat hati Siti remuk berkeping-keping dilanda kekecewaan dan berniat melakukan suatu hal yang mengerikan.

Dan, dalam kisah terakhir, Sabai Nan Aluih (Sha Ine Febriyanti) bersikeras menolak pinangan Rajo Nan Panjang (Arswendy Nasution). Sabai tidak sudi dipersunting sang saudagar kaya karena usianya yang sudah renta. Penolakan sang gadis menyulut pertikaian, dan pertikaian berlanjut menjadi perseteruan. Untung tak dapat diraih, dan tragedi pun tak terelakkan.

Secara keseluruhan pertunjukan ini terasa begitu dinamis dan menyegarkan berkat rancak tari besutan Tom Ibnur yang menyajikan koreografi yang kental dengan tradisi Minang serta paduan animasi di sepanjang pertunjukan. Sangat mengasyikkan.

Jadi, tunggu apa lagi: saksikan saja hari ini dan besok, pukul 15.00. Mari saksikan bersama-sama, Lagendra Padusi dalam program #TeaterDiRumahAja live streaming di indonesiakaya.com dan kanal Youtube Indonesia Kaya.

Selamat menikmati.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.