fbpx
Nus Salomo, Salah Satu Pionir Seni Digital

Nus Salomo, Salah Satu Pionir Seni Digital

Di tengah hiruk-pikuk digitalisasi dan pengembangan karya-karya secara digital dengan memanfaatkan aspek-aspek multimedia saat ini, seniman Nus Salomo adalah salah seorang yang telah sejak lama memantapkan posisinya sebagai seorang perupa yang memanfaatkan teknologi digital dalam proses penciptaan karya-karyanya.

Pernah mengenyam pendidikan di bidang arsitektur di Institut Teknologi Bandung, Nus Salomo juga sempat berkecimpung mendalami teknologi animasi dan rekayasa visual secara digital di Amerika Serikat.

Nus Salomo adalah salah satu seniman yang telah melakukan adaptasi dengan sistem digital untuk seni ketika hal ini masih berada di tahap awal, di sekitar tahun 90-an. Pada tahun 2006 ia telah melakukan pameran tunggal all digital painting-nya yang pertama.

Proses digitalisasi yang dilakukan Nus Salomo tidak berhenti di dua dimensi saja, tetapi berlanjut ke karya-karya trimatra. Saat ini, karya-karya trimatra Nus Salomo tidak hanya dibuat dengan proses digital sculpting tetapi juga dicetak dengan proses 3D printing.

Nus Salomo juga telah memasukkan karya-karyanya sebagai aset kripto ‘non-fungible token’ NFT. Dan, dalam dua tahun terakhir ini saja, sudah tiga pameran virtual yang ia ikuti.

“Proses berkarya saya menjadi sangat menyenangkan, karena dapat dilakukan di mana saja, di rumah, studio, cafe, dan bahkan dari kota lain dan luar negeri,” ujarnya.

Nus Salomo, My Private Garden #2, d. 120 cm, cat minyak pada plat alumunium, 2019. Foto: Nus Salomo

Nus The Cybernaut

Menurut Nus sendiri, ada dua pameran yang berperan penting dalam membentuk karakter karier kesenimanannya hingga saat ini. Yang pertama adalah pameran tunggalnya Nus The Cybernaut tahun 2008 di O house Gallery, Jakarta.

Pameran ini, terang Nus Salomo, adalah pameran pertama di Indonesia yang menampilkan seri karya digital painting yang dicetak di atas kanvas.

“Ada hampir 15 karya berukuran besar, yang saya kerjakan dengan proses digital. Pameran ini dikuratori oleh Jim Supangkat,” kenang Nus Salomo.

Pada saat itu, lanjutnya, karya seni digital masih belum begitu dikenal.

“Kurator sangat antusias memperkenalkan metode berkarya digital di masa itu. Penerimaan orang sangat beragam, bahkan ada melihat dengan sebelah mata dan ragu, apakah ini merupakan karya fine art?” imbuhnya.

Namun, menurut Nus, apresiasi penonton dan kolektor saat itu cukup baik.

“Kita lihat saat ini, dengan maraknya karya-karya digital NFT, di mana orang mulai melirik untuk mengapresiasi bahkan mengoleksi karya-karya digital. Saat inilah momentum bagi seniman digital untuk berkarya dan menikmati keuntungan, baik dari sisi eksposur dan monetary,” ungkapnya.

Pameran lainnya adalah pameran tunggalnya di gedung utama Galeri Nasional (Galnas) Jakarta pada Mei hingga Juni 2019 yang lalu.

Baginya, kesempatan untuk dapat berpameran di sini adalah sebuah kehormatan dan penghargaan bagi seorang seniman.

Undangan pameran ini merupakan respon dari pihak Galnas ketika karyanya dipamerkan dalam  pameran patung Triennale Asia di Galnas di tahun 2016. Pameran yang dikuratori Rizki A Zaelani tersebut mengangkat tema ‘sayap’ secara lebih mendalam dan diberi judul Wing Things.

“Karya yang saya bawa adalah karya berbentuk sayap terbuat dari anyaman bambu alami, dan rupanya karya berjudul Come Fly with Me ini menjadi daya tarik pengunjung dalam berinteraksi dengan karya.”

Selain dua pameran ini, The Posthuman yang digelar di tahun 2006 juga adalah sebuah momentum penting dalam perjalanan karier Nus Salomo.

Saat itu adalah untuk pertama kalinya ia berpameran tunggal dengan dibebaskan sepenuhnya untuk berkarya dan mengambil topik yang sangat mempengaruhinya, yakni fiksi ilmiah.

Fiksi Ilmiah, Tradisi Lokal, dan Seni Kontemporer Berskala Masif

Fiksi ilmiah, menurut Nus Salomo, selalu menjadi daya yang kuat dalam mempengaruhi dirinya dalam berkarya. Sinematografi adalah kutub lain yang mempengaruhi karya-karyanya.

“Bisa dilihat dari kecenderungan format lukisan dengan perbandingan widescreen, patung-patung hybrid manusia dan mesin, dan karya-karya kinematics lainnya. Arsitektur, fashion, dan travel selalu menjadi inspirasi dan bahkan menjadi bagian dalam karya saya,” paparnya.

Nus Salomo di studio.

Sebagai seorang seniman, Nus Salomo tidak berkeinginan untuk menempatkan diri pada satu posisi tertentu dalam spektrum berkesenian. Karena menurutnya, keinginan untuk menempatkan diri pada suatu posisi tertentu adalah suatu bentuk pengekangan diri dalam berkarya.

Dalam setiap karya, Nus selalu mengusahakan sebuah pencapaian seni yang lebih baik dari karya sebelumnya dan selalu punya makna dan tujuan.

“Kedua aspek dalam berkarya ini selalu ada tapi tidak pernah dengan tujuan untuk menempatkan diri di posisi tertentu dalam spektrum berkesenian. Orang lain yang mengamati dan menikmatilah yang menempatkan diri saya dalam spektrum itu menurut pendapat pribadinya, bukan saya,” terangnya pula.

Bagi Nus Salomo pribadi, makna karya-karyanya adalah manifestasi dari apa yang ia temukan di dunia, ke mana ia terbang dan bermain. Tidak lebih dan tidak kurang.

Nus Salomo menyebutkan beberapa nama seniman yang paling ia gemari dan sedikit banyak memberi pengaruh dalam karya-karyanya. Menurut pengakuannya, seniman Hajime Sorayama dengan chrome robot dan binatangnya sangat menginspirasi di awal-awal ia berkarya.

Selain itu juga karya-karya patung Yasushi Nirasawa, gambar-gambar dan sketsa Kim Jung Gie membuat Nus Salomo selalu bersemangat untuk berkarya, berkhayal, dan melihat banyak hal dari sudut pandang yang berbeda.

“Karya-karya gila Tim Burton dalam film-filmnya juga selalu membuat saya ingin mendorong karya saya untuk mencapai lebih jauh lagi dan lebih bebas lagi,” demikian ungkap Nus Salomo.

Dalam berkarya, Nus Salomo menyebutkan bahwa ia tidak memiliki referensi khusus dalam memilih material. Menurutnya, seorang seniman harus mempelajari banyak media dan material serta prosesnya. Semuanya adalah alat untuk bercerita melalui karya.

Proses alur kreatif juga sangat cair dan tergantung dari apa yang hendak dicapai oleh suatu karya. Misalnya, menurut Nus, proses berkarya untuk instalasi The Dancing Rotan. Site tempat karya yang begitu luas dan tinggi, juga dudukan karya yang notabene adalah kolom penahan gedung menjadi pertimbangan utamanya untuk karya ini.

Proses kemudian dilanjutkan dengan pemilihan material rotan, berlanjut dengan rekayasa bentuk, computer aided design, disain struktur, pencahayaan, baru kemudian manufacturing, dan pada tahap akhir adalah instalasi.

Berbeda dengan The Dancing Rotan, proses karya Motoman yang menurutnya dimulai dari pemilihan material yang hendak dipakai yakni timah, alumunium, dan karbon. Kemudian, barulah proses berkarya dimulai dengan membuat ratusan sketsa dan pencarian bentuk dengan plastisin.

Proses ini kemudian berlanjut dengan mambuat rangka patung, dan dilanjutkan dengan pembuatan patung dengan tanah liat, pencetakan dengan silicon dan serat kaca. Di tahap akhir dilakukan pengecoran dan penyambungan logam serta finishing.

The Dancing Rotan adalah proyek instalasi seni berukuran cukup besar 6x8x25 meter yang menggunakan ribuan rotan alami yang disusun pada struktur melingkar di tengah ruang lobi gedung South 78, Gading Serpong, Tangerang, Banten.

Di gedung yang sama, Nus Salomo juga menempatkan karya berukuran masif yang menempel pada fasad bangunan. Karya tersebut merupakan kolaborasi bersama arsitek Sonny  Sutanto.

Wind Flaw, adalah nama karya setinggi 13 lantai/70m tersebut.  Menampilkan perpaduan dua karya menyerupai sebuah selendang. Karya ini memiliki kesulitan teknis yang tinggi karena menempel pada bangunan dan mendapat terpaan angin yang kencang.

Nus Salomo juga telah merampungkan sebuah proyek seni yang bertempat di gedung pertemuan Sutera Hall, Alam Sutera, Tangerang Selatan, Banten. Ia membuat instalasi seni ikonik di dinding besar di lobi atrium utama gedung tersebut.

Nus menciptakan sebuah karya instalasi yang bergerak secara kinetis berbentuk bunga anggrek.

“Saya berada di tengah-tengah penelitian saya di daerah itu ketika saya menemukan bahwa daerah ini adalah rumah bagi petani yang mengembangkan anggrek berjenis khusus yang disebut Vanda Douglas.  Bunga ini juga diadopsi sebagai ikon bunga daerah kota Tangerang,” tuturnya.

Bagian dari keindahan anggrek ini adalah ketika kelopaknya membuka. Hal tersebut mendorong Nus Salomo untuk menunjukkan proses ini dengan membuat karya instalasi yang bergerak secara berkala, membuka dan menutup menyerupai pergerakan kelopak bunga anggrek. Instalasi ini berada pada bidang dinding dengan ukuran 16×20 meter.

Selain itu, Nus Salomo sedang menyiapkan beberapa karya instalasi seni di Bali, gedung dan hotel, digitalisasi beberapa patung publik ini juga sedang menyiapkan pamrean digital Instalasi Seni dalam Arsitektur.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.