fbpx
Niduparas Erlang: Bahasa Daerah Semakin Terpinggirkan

Niduparas Erlang: Bahasa Daerah Semakin Terpinggirkan

Niduparas Erlang, penulis peraih Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) ke-20 untuk kategori prosa lewat bukunya Burung Kayu (2020) menyempatkan diri untuk berbincang dengan Kultural.id menyoal bahasa Indonesia.

Perbincangan ini dilakukan dalam semangat memperingati Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober.

Nidu, demikian penulis ini kerap disapa, membayangkan bahasa Indonesia adalah semua bahasa yang ada di berbagai daerah kepulauan di Indonesia, bukan sekadar bahasa Indonesia yang kita kenal sekarang.

“Sebagai bahasa nasional, tentu saja bahasa Indonesia akan terus berkembang dan menemukan kemungkinan-kemungkinan baru,” ujarnya.

Namun,  lanjut Nidu, kita juga tahu bahwa kebijakan yang menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi dan mewajibkan setiap warga negara mampu berbahasa Indonesia, memiliki efek samping yang sangat merugikan dalam pelestarian bahasa daerah.

Menurutnya, dengan dukungan kekuasaan terhadap bahasa Indonesia sebagai ujung tombak pembangunan, misalnya, tentu saja bahasa daerah tidak akan mampu bersaing dengan bahasa Indonesia. Hal ini menyebabkan bahasa daerah semakin terpinggirkan.

Dalam novel Burung Kayu, saya berupaya memosisikan bahasa daerah Mentawai setara dengan bahasa Indonesia – Niduparas Erlang (Foto dok. TerokaPress)

Sebagai penulis prosa, Nidu kerap dihadapkan pada ketidakmampuan bahasa Indonesia untuk menampung konsep-konsep dari suatu khasanah milik masyarakat daerah tertentu.

Bagi Nidu, mestinya bahasa Indonesia lebih banyak mengadopsi bahasa daerah untuk memperkaya lema bahasa Indonesia dengan cara yang memadai. Artinya, kaidah penyerapan ejaan bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia tidak “memaksakan” penyesuaian ejaan.

“Sekadar contoh, misalnya, mengapa “geulis” dalam bahasa Sunda harus menjadi “gelis” dalam bahasa Indonesia? Siapa sebetulnya yang dilayani oleh bahasa Indonesia seperti itu? Jika alasannya adalah karena penutur bahasa dari daerah lain tidak bisa mengucapkan “eu” maka “eu” harus menjadi “e,” mengapa penyerapan itu malah mengabaikan penutur aslinya?”

Dalam hal semacam itu saja, lanjut Nidu, bahasa Indonesia sudah cukup diskriminatif terhadap penutur bahasa daerah.

“Untuk itu, dalam novel terbaru saya, Burung Kayu, saya berupaya memosisikan bahasa daerah Mentawai setara dengan bahasa Indonesia,” demikian ungkapnya.

Nidu berharap ke depan pengembangan bahasa Indonesia harus mempertimbangkan keberadaan bahasa daerah pula.

“Dan, bukan hanya sekadar pemeliharaan tetapi lebih pada pengembangan dan pemanfaatan bahasa daerah,” demikian ujarnya menutup percakapan.

 

Simak juga wawancara Kultural.id dengan Linda Christanty dan Hasan Aspahani 

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.