fbpx
Mengingat Kembali I La Galigo di Hari Keragaman Budaya

Mengingat Kembali I La Galigo di Hari Keragaman Budaya

I La Galigo, pertunjukan yang berasal dari Puisi Epik Bugis, disutradarai oleh Robert Wilson. Dipentaskan perdana 12 Maret 2004 di The Esplanade Theaters on the Bay, Singapura (Sumber: robertwilson.com)

Hari Keragaman Budaya untuk Dialog dan Pembangunan atau The World Day for Cultural Diversity for Dialogue and Development diperingati setiap tanggal 21 Mei. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Badan PBB untuk Pendidikan dan Kebudayaan UNESCO menetapkan hari ini menjadi Hari Keragaman Budaya sejak tahun 2002.

Resolusi PBB mengenai penetapan Hari Keragaman Budaya ini didorong oleh kenyataan bahwa konflik-konflik besar di dunia banyak dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan di elemen-elemen kebudayaan. Peringatan ini terutama bertujuan untuk menjembatani perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam elemen budaya masing-masing kelompok bangsa dan masyarakat agar semua penduduk dunia dapat hidup berdampingan secara harmonis dalam perdamaian.

Dalam rangka memperingati Hari Keragaman Budaya, Kultural mengajak Anda untuk mengenang sebuah pertunjukan besar yang melibatkan banyak pihak dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda-beda, yaitu I La Galigo. Proses dibuatnya pertunjukan I La Galigo adalah sebuah contoh bagaimana keragaman bisa menyatu, saling melengkapi, dan sebagai hasilnya, menciptakan sebuah pertunjukan indah yang masih terus menjadi bahan bahasan.

I La Galigo merupakan sebuah produksi teater musikal kelas dunia yang diadaptasi dari epos Bugis Sureq Galigo. Kisah ini disampaikan secara turun temurun melalui tradisi lisan dan naskah-naskah tua yang ditulis dalam bahasa dan huruf Bugis Kuno. Dipentaskan perdana pada tahun 2004 di The Esplanade Theaters on The Bay, Singapura, I La Galigo telah ditampilkan di berbagai panggung di penjuru dunia, termasuk di Indonesia.

Menurut Rama Soeprapto, asisten sutradara pertunjukan ini, I La Galigo adalah sebuah kerja kesenian besar yang didukung orang-orang dari berbagai latar belakang kebudayaan.

“Aktor-aktor, musisi, dan penari itu berasal dari berbagai daerah di Indonesia, dari Sulawesi, Jawa, Bali, termasuk dari Papua juga. Tim kreatifnya dari berbagai negara, dari Amerika, Jerman, Singapura, Itali, Prancis, Kanada, dan dari Indonesia,” demikian ujar Rama Soeprapto ketika menceritakan kembali tentang produksi pertunjukan ini.

Secara sekilas saja, memang terlihat bahwa tim produksi I La Galigo terdiri dari seniman-seniman yang memiliki latar belakang budaya yang begitu beragam. Robert Wilson, sutradara I La Galigo, adalah seorang seniman teater eksperimental yang berasal dari Amerika.

Begitu pula Rhoda Grauer, sosok yang mengolah naskah dan dramaturgi I La Galigo, adalah seniman yang berasal dari Amerika. Sementara itu, komponis Rahayu Supanggah yang bertanggung jawab membangun komposisi musik untuk pertunjukan ini berasal dari Indonesia.

“Secara singkat, I La Galigo itu adalah kolaborasi multi-kultur, mengangkat naskah yang berasal dari Sulawesi, Indonesia,” lanjut Rama. “Di kostum saja, misalnya, Yusman Siswandi dan Airlangga Komara dari Indonesia bekerja bersama disainer Joachim Herzog dari Jerman. Dan, hasilnya memang luar biasa.”

Menurut Rama, apa yang dimunculkan dalam I La Galigo adalah sebuah komunikasi yang harmonis dari seniman-seniman dari berbagai latar belakang yang bekerja bersama dalam sebuah visi yang sama. Dari komunikasi yang harmonis tersebut, halangan dan rintangan seperti perbedaan bahasa, perbedaan kebiasaan, dan sebagainya bisa diatasi untuk mencapai sebuah tujuan bersama.

Dalam berkesenian, I La Galigo dapatlah menjadi sebuah contoh yang baik bagaimana keragaman bisa dijembatani dan dikomunikasikan hingga menyatu dalam harmoni sebuah karya yang indah.

“Kita tentu berharap akan ada lagi karya-karya besar yang merupakan kolaborasi multi-kultur seperti I La Galigo, dengan membawa nilai-nilai budaya Indonesia kepada dunia,” demikian tutup Rama Soeprapto.

 

 

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.