fbpx
Mengenang 79 Tahun Hari Kelahiran Arifin C. Noer

Mengenang 79 Tahun Hari Kelahiran Arifin C. Noer

Arifin C. Noer lahir di Cirebon pada 10 Maret 1941 dari keluarga sederhana. Ayahnya, Mohammad Adnan, keturunan kiai yang berprofesi sebagai penjagal kambing.

Arifin memulai pendidikan di SD Taman Siswa dan SMP Muhammadiyah di Cirebon pada 1957. Setelah tamat SMP, ia melanjutkan SMA di Cirebon, tetapi tidak tamat. Arifin kemudian merantau ke Surakarta, di sini ia masuk SMA Jurnalistik dan mulai belajar kesenian.

Arifin mulai menulis sejak SMA di Solo. Tulisannya dimuat di berbagai penerbitan, surat kabar, dan Majalah; di antaranya adalah Indonesia, Sastra, Gelora, Basis, Suara Muhammadiyah, dan Horison.

Pada 1960, tamat dari SMA Jurnalistik, ia kemudian melanjutkan pendidikan di Jurusan Administrasi Negara, Fakultas Sosial dan Politik, Universitas Tjokroaminoto, Surakarta.

Kota Solo menjadi kota cinta buat Arifin. Di sini, ia jatuh cinta pada Nurul Aini, yang kemudian dituangkan dalam sajak berjudul Nurul Aini (1963). Arifin akhirnya menikahi Nurul Aini, menggunakan naskah lakon Prita Istri Kita (1967) sebagai mas kawin. Dari pernikahan ini mereka dikaruniai dua orang anak, yaitu Vita Ariavita dan Veda Amritha—

Selanjutnya, Arifin pindah ke kota Yogyakarta. Kota yang memiliki kekayaan kebudayaan ini membuat Arifin makin kreatif menulis puisi dan menekuni teater.

Kreativitasnya di bidang penulisan puisi dan drama makin berkembang sejak pindah ke Yogyakarta. Di tahun 1960, ia bergabung dengan WS Rendra dalam lingkungan drama Jogja. Kemudian ia bergabung dengan Teater Muslim pimpinan Mohammad Diponegoro. Kemudian lahir drama Nenek Tercinta. Setelah itu Mega-mega, pemenang kedua sayembara naskah drama Badan Pembina Teater Nasional Indonesia  pada tahun 1967. (Dendy Sugono, Ensiklopedia Sastra Indonesia Modern, Bandung, 2009)

Selesai menamatkan studinya di Fakultas Sosial Politik, Universitas Cokroaminoto, ia pindah ke Jakarta untuk mendirikan Teater Kecil (1968).

Tahun 1979, Arifin berpisah dengan Nurul Aini kemudian Arifin menikahi Jajang Pamoentjak, putri tunggal Duta Besar RI pertama di Perancis dan Filipina. Dari perkawinannya dengan Jajang Pamoentjak, mereka dikaruniai dua orang anak, yaitu Nita Nazira dan Marah Laut.

Teater Ketjil

Salim Said salah seorang yang ikut merintis Teater Ketjil, dalam Arifin C Noer Telah Tiada, mengungkapkan kenangannya saat permulaan Arifin di Jakarta dan saat-saat awal Teater Ketjil.

Waktu itu, katanya Arifin menumpang tinggal di rumah Salim di bilangan Tegalan, Jakarta. Nama Teater Ketjil, berawal dari kelompok orang asing di Jakarta yang memiliki grup Little Theater. “Kelompok orang asing itu waktu itu tak aktif lagi, lalu saya katakan pada Arifin mengapa tidak menggunakan nama itu”, kata Salim

Arifin dalam acara ulang tahun ke-25 Teater Ketjil di kediamannya, mengatakan nama “Ketjil” yang dipakai teater ini dipilih dengan sebuah semangat “tahu diri”. “Kelompok ini kan mengandalkan pada eksperimentasi. Kami tahu, penonton akan terbatas, hanya jumlah kecil saja”, ucap Arifin waktu itu (Kompas, 29 Mei 1995).

Teater Kecil kemudian menjadi ajang kreativitas dan aktivitasnya dalam mengembangkan dunia kesenian di Indonesia, khususnya seni teater. Teater Kecil juga dimanfaatkannya semacam laboratorium untuk mengembangkan eksperimennya. Lakonnya Kapai-Kapai dipentaskan dalam bahasa Inggris dan bahwa Belanda di Amerika Serikat, Belgia, dan Australia.

Dimensi Karya Arifin C. Noer

Karya-karya Arifin C. Noer memiliki muatan rasa kepedulian terhadap problematik sebagian besar manusia, khususnya mereka yang berada di bawah garis kemiskinan. Arifin C. Noer mencoba mempertegas pemahamannya kepada manusia, khususnya orang-orang yang “miskin” baik materi maupun rohaninya.

Hal ini diamati oleh Suyatna Anirun, bahwa setiap karya Arifin mencerminkan bagaimana ia memandang lingkungannya, menyoroti bangsanya, sosok rakyat kecil yang berjuang mempertahankan hidup, melukiskan hasrta-hasrat, impian, dendam kesumat dan sebagainya (1987 : 11).

Salah satu karya Arifin C. Noer yang menyoroti “kemiskinan” adalah Lakon Umang-Umang Atawa Orkes Madun II A. Naskah ini berkisah tentang sebuah masyarakat yang menganut sistem kleptorasi (pemerintahan maling) di bawah komando Waska, berandal tua yang gelap silsilahnya.

Tempo dalam Aku Merampok, Maka Aku Ada (28 Desember 1998) menuliskan, “Semula, dendam terhadap kemiskinan merupakan motivasi utama mereka untuk bertahan hidup. Jalan yang mereka pilih adalah merampok, mencopet, menjambret, menggarong, dan menjarah. Namun, bagi Waska, tindakan merenggut dengan paksa segala sesuatu yang bukan haknya itu, tak sekadar jalan mengatasi kemeralatan material. Ia menjadikan itu sebagai perilaku eksistensial. “Aku merampok, maka aku ada”, demikiran kira-kira, andaikan Waska adalah filsuf yang merumuskan eksistensinya.”

Pengalaman hidup yang dialami Arifin turut memicu proses kreatifnya dalam melahirkan karya. Beberapa naskah seperti Kapai-Kapai dan Interogasi 1 lahir dari persoalan yang begitu dekat dengan dirinya ketika bekerja sebagai personalia di Pulo Gadung.

Arifin mengangkat kehidupan kaum yang kerap menjadi korban. Keprihatinan Arifin terhadap kaum buruh pernah diungkapkannya dalam wawancara di Pikiran Rakyat tahun 1995, “Saya sangat prihatin keadaan buruh di Indonesia…setiap kemelut perubahan, kedudukan buruh kurang menguntungkan”

Keprihatinan Arifin melihat kaum jelata adalah bentuk protes terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang hampir dikalahkan oleh nilai materi.

Dimensi sosial pada karya Arifin dengan mengangkat persoalan rakyat jelata kerap dimaknai sebagai perjalanan kembali hakekat keterbatasan manusia yang berhadapan dengan kematian. Akan tetapi, kematian yang menjadi landasan di setiap lakonnya itu, bukanlah kematian yang menyeramkan, melainkan kematian yang filosofis.

Lakon-lakon dalam pementasan teater Arifin C. Noer, kerap mengangkat ketragisan tokoh-tokohnya ketika berhadapan dengan nasib (kematiannya). Ketragisan tersebut diperkuat oleh suasana yang puitis, surealis, dan simbolis

Inilah gagasan awalnya, dan dia tidak pernah menyimpang dari gagasan ini, sehingga ia senantiasa berhasil memadukan dimensi sosial dan trasedental sebagai sesuatu kesatuan dalam karya-karyanya (Hadi WM, 1987).

Pelopor Teater Indonesia Modern

Arifin C. Noer, telah mengukir sejarah teater Indonesia modern. Sejarah telah menobatkannya sebagai dramawan Indonesia modern pertama yang mengadopsi teater-teater tradisional menjadi teater Indonesia modern.

Di tangan Arifin, teater Indonesia Modern menjadi teater yang bukan ‘jiplakan’ teater Barat, melainkan metamorfosa teater tradisional (Ia sendiri pernah menyebutkan bahwa teater Indonesia – dan dengan demikian juga teater yang diasuhnya – saat ini sedang dalam masa pertumbuhan, bukan seperti di Barat namun tidak pula persis Timur)

 Nano Riantiarno, dalam tulisannya Teater Ketjil Wadah Penggemblengan Aktor , mengungkapkan Arifin adalah pelopor drama modern, khususnya dalam penulisan naskah, yang terlihat pada naskah Mega-Mega atau Kapai-Kapai.

Selain itu, sutradara Teater Koma ini melihat, dalam naskah-naskahnya Arifin sering mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan yang selalu merangsang untuk dipikirkan kembali. Nano menambahkan, pernyataan tentang ozon (dalam lakon ozon yang dipentaskan bulan September 1989) tidak berhenti pada petikan berbagai berita mengenai bahaya ozon. “Lebih dari itu, Arifin melahirkannya dalam dramatisasi yang lebih mendalam”, ungkapnya.

Sementara itu, Jakob Sumardjo mencatat sutradara ini sebagai orang yang pertama kali mementaskan naskah asli (Mega-Mega, 1969) untuk teater yang disebutnya sebagai periode Teater Indonesia Mutahir (Suara Pembaruan, 19 Maret 1993).

Arifin C Noer, Ujung Tombak Teater Modern Indonesia

Putu Wijaya dalam Arifin C. Noer: Tradisi Tiba-tiba tidak terasa Lapuk  menuliskan, Arifin C. Noer adalah salah satu ujung tombak perangkat lunak peta teater Indonesia Modern. Ia membawa pembaruan dalam penulisan lakon dan pencarian idiom pengucapan panggung.

Karya-karyanya keluar dari konvensi penulisan drama realis yang berasal dari tradisi penulisan teater Barat. Idiom-idiom pentasnya adalah usaha pencarian celah-celah baru yang berkiblat pada tradisi teater Indonesia.

Ia adalah bagian penting dalam pembentukan “tradisi baru” teater Indonesia modern.

Arifin tidak lagi bertutur secara runut dengan menempatkan konflik dan karakter sebagai peralatan utama. Ia sudah masuk ke dalam “alam dongeng” tradisi berdialog dalam teater tradisional/rakyat Indonesia.

Ia mengolah situasi dan peristiwa batin menjadi tontonan. Itulah yang menjadi bagian dasar-dasar “tradisi baru”dalam teater modern yang Indonesia.

Pementasan bukan lagi pertunjukan “sandiwara” yang sebatas mengandalkan kata-kata dan cerita, tetapi juga sebuah pertunjukan visual.

Lakon tidak lagi sekadar bagian dari sastra, tapi sebuah peristiwa. Kumpulan kejadian yang bergerak ke banyak titik target dan semakin berkembang oleh partisipasi penonton.

Lebih dari itu, sebagaimana yang selalu diperjuangkan oleh Arifin, teater tidak hanya sebatas sajian hiburan, tetapi sebuah perenungan. Karenanya, teater tidak hanya menuntut imajinasi, tetapi juga akal budi. (Kompas, 1 Januari 2000)

Selamat Jalan Arifin C. Noer

Pada 28 Mei 1995, Arifin C Noer tutup usia pada usia 54 tahun, setelah menderita kanker hati selama beberapa waktu.  Hampir semua nama di dunia teater, film, tumpah di rumah duka, bercampur dengan nama-nama dari dunia profesi yang lain. Beragamnya latar belakang pelayat seperti menggambarkan bukan saja signifikansi posisi Arifin C. Noer dalam dunia teater di mana dia pantas disebut sebagai “perintis teater Indonesia”, tetapi juga keluwesan, kehangatan, keakraban pribadi Arifin C. Noer (Arifin C Noer Telah Tiada, Kompas 29 Mei 1995).

Karya dan Penghargaan Arifin C. Noer

Dirangkum dari beberapa sumber, berikut karya-karya Arifin C. Noer.

Buku kumpulan sajak Arifin C. Noer: Nurul Aini (1963), Siti Aisah (1964), Puisi-Puisi yang Kehilangan Puisi (1967), Selamat Pagi, Jajang (1979), dan Nyanyian Sepi (1995).

Karya Naskah Drama:  Lampu Neon (1960), Matahari di Sebuah Djalan Ketjil (1963), Nenek Tertjinta (1963), Prita Istri Kita (1967), Mega-Mega (1967), Sepasang Pengantin (1968), Kapai-Kapai (1970), Sumur Tanpa Dasar (1971), Kasir Kita (1972), Tengul (1973), Orkes Madun I atawa Madekur dan Tarkeni (1974), Umang-Umang (1976), Sondek, Pemuda Pekerja (1979), Dalam Bayangan Tuhan atawa Interogasi I (1984), Ari-Ari atawa Interograsi II (1986), dan Ozon atawa Orkes Madun IV (1989).

 

Selain itu, ia juga menyutradarai banyak film dan sinetron serta menulis skenarionya, antara lain, Pemberang (1972), Rio Anakku (1973), Melawan Badai (1974), Petualang-Petualang (1974), Suci Sang Primadona (1978), Harmoniku (1979), Lingkaran-Lingkaran (1980), Serangan Fajar (1981), Pengkhianatan G.30 S/PKI (1983), Matahari-Matahari (1985), Sumur Tanpa Dasar (1989), Taksi (1990), dan Keris (1995).

Penghargaan di Dunia Perfilman dan Pertelevisian, Arifin C. Noer dapat menyabet piala The Golden Harvest pada Festival Film Asia (1972), piala Citra dalam Festival Film Indonesia (1973, 1974, 1990), dan piala Vidia dalam Fistival Sinetron Indonesia (1995).

Film garapannya yang mendapat penghargaan terbesar selama pemerintahan Orde Baru adalah “Pengkhianatan G.30.S/PKI” yang dibintangi Umar Kayam. Film ini selalu diputar setiap tahun melalui TVRI dalam memperingati “Hari Kesaktian Pancasila” dan baru diberhentikan setelah pemerintahan Orde Baru tumbang.

Sebagai sastrawan yang unggul dan kreatif, ia juga sering mendapat hadiah sastra, antara lain, Pemenang Sayembara Penulisan Naskah Lakon dari Teater Muslim, Yogyakarta (1963) untuk karyanya Matahari di Sebuah Djalan Ketjil dan Nenek Tertjinta.

Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1972) atas jasanya dalam mengembangkan kesenian di Indonesia. Hadiah Sastra ASEAN dari Putra Mahkota Thailand (1990) atas karyanya Ozon, dan Hadiah Sastra dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1990).

Dramanya Kapai-Kapai diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Harry Aveling dengan judul Moths dan diterbitkan di Kuala Lumpur, Malaysia.

Sejumlah pengamat dan peneliti sastra telah menulis tentang Arifin C. Noer atau karya-karya yang dihasilkannya, antara lain, Goenawan Mohamad dalam bukunya Seks, Sastra, Kita (1980) berjudul “Sebuah Pembelaan untuk Teater Indonesia Mutakhir”;

Taufik Ismail dalam Horison Nomor 6 Tahun I, Desember 1966, “Puisi-puisi yang Kehilangan Puisi”;

Korrie Layun Rampan dalam bukunya Puisi Indonesia Hari Ini: Sebuah Kritik (1985, Yayasan Arus);

Abdul Hadi W.M. dalam buku Ozone dan Berita Buana (1989) sebagai pengantar pementasan drama Ozone karya Arifin C. Noer;

Jamal D. Rahman dalam Lembar Mastera No. 2/ Januari 2000, sisipan majalah sastra Horison, Dewan Sastera (Malaysia);

Bahana (Brunei Darussalam) dengan esainya “Sumur Tanpa Dasar: Pergulatan Absurditas”;

Sudiro Satoto yang mulai menulis tentangnya dari tahun 1978 sampai 1998.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.