fbpx
Mengecap Nasionalisme dalam 38 Sketsa S. Sudjojono

Mengecap Nasionalisme dalam 38 Sketsa S. Sudjojono

Sindoedarsono Soedjojono, atau lebih dikenal sebagai S. Sudjojono mencuat sebagai salah satu pelukis idealis Indonesia yang pada masanya aktif berpolitik dan berorganisasi.

Sudjojono pertama kali memamerkan karya lukis bersama para pelukis Eropa di Bataviasche Kunstkring, Jakarta pada tahun 1937, awal mula ia dikenal sebagai seorang pelukis. Di tahun yang sama, S. Sudjojono bersama Agus Djaja dan seniman-seniman lain mendirikan Persagi, Persatuan Ahli Gambar Indonesia. Sebuah organisasi yang dibuat untuk menentang dominasi seniman-seniman Belanda dan Eropa pada masa itu.

Tidak hanya di Persagi, sebagai perupa, kritikus, dan organisator, S. Sudjojono aktif memantik semangat nasionalisme dalam berbagai wadah, termasuk Poetra dan Seniman Indonesia Muda. Tulisan-tulisan dan karya-karya lukisnya kerap dipengaruhi idealisme dan cara pandangnya terhadap kehidupan berbangsa.

Salah satu karya terbaik S. Sudjojono dibuatnya atas pesanan khusus dari Gubernur Jakarta Ali Sadikin sebagai salah satu karya yang akan dipamerkan dalam rangkaian peresmian Museum Sejarah Jakarta pada tahun 1974.

Lukisan itu berjudul Pertempuran antara Sultan Agung dan JP Coen.

Pertempuran antara Sultan Agung dan Jan Pieterszoon Coen, 1973, cat minyak di atas kanvas, 300 x 1000 cm. Foto: Tumurun Museum

Mukti Negeriku!

Untuk kembali merayakan idealisme dan keunggulan karya S. Sudjojono, Tumurun Private Museum bekerjasama dengan S. Sudjojono Center menggelar pameran seni rupa Mukti Negeriku! Perjuangan Sultan Agung Melalui Goresan S. Sudjojono, berlangsung dari 28 Agustus 2021 sampai 28 Februari 2022, bertempat di Tumurun Private Museum, Surakarta, Jawa Tengah.

Pameran ini menampilkan reproduksi lukisan Pertempuran antara Sultan Agung dan JP Coen (1973), koleksi Museum Sejarah Jakarta, berikut 38 sketsa yang dibuat Sudjojono dalam proses pengerjaan lukisan tersebut.

Sketsa-sketsa ini merupakan koleksi Tumurun Private Museum, yang untuk kali pertama dipamerkan secara lengkap ke hadapan khalayak ramai.

“38 sketsa asli ini baru pertama kali dipamerkan secara lengkap di Indonesia. Ini dilakukan agar masyarakat dapat memahami arti penting dari perjuangan Sultan Agung dalam menolak keberadaan Belanda di Indonesia. Dan, kehebatan maestro Sudjojono dalam menghasilkan sebuah  masterpiece,” demikian disampaikan Iwan Kurniawan Lukminto, pemilik Tumurun Private Museum.

Sultan Agung Perintahkan Komandannya Serang Batavia, 1973, tinta di atas kertas, 34 x 25 cm. Foto: Tumurun Museum

Kira-Kira Begini Latar Belakang Pertempuran Orang-Orang Mataram Musuh Serdadu-Serdadu VOC di tahun 1628 dan 1629, 1973, pena di atas kertas, 23 x 34 cm. Foto: Tumurun Museum

Maya Sudjojono, anak S. Sudjojono, mengungkapkan bahwa lukisan Pertempuran antara Sultan Agung dan JP Coen sengaja dipilih untuk mengekspos proses penciptaan sang maestro yang sistematik dan terperinci.

“Dalam pameran ini, kami sengaja memfokuskan sketsa-sketsa dari Sudjojono. Dan sketsa-sketsa serta catatan-catatan dalam proses pengerjaan lukisan Pertempuran antara Sultan Agung dan JP Coen adalah yang paling kompleks dan memiliki arti paling bersejarah,” papar Maya Sudjojono.

Tentara Belanda Lari Tunggang Langgang, 1973, pena di atas kertas, 23 x 32.5 cm. Foto: Tumurun Museum

Pertemuan Kjai Rangga dan J.P Coen (13 April 1628 di Batavia), 1973, tinta di atas kertas, 34 x 23 cm. Foto: Tumurun Museum

Karya Berbasis Riset

Sebagai seniman yang berpihak pada kenyataan sosial dan fakta sejarah, S. Sudjojono menempatkan riset sebagai sebuah bagian paling penting dalam menciptakan karyanya.

Untuk mengerjakan Pertempuran antara Sultan Agung dan JP Coen, S. Sudjojono melakukan riset mendalam selama tiga bulan di Belanda untuk mendapatkan data-data historis yang akurat.

Data-data tersebut kemudian dituangkannya ke dalam sketsa-sketsa, disertai  catatan-catatan yang dibuat Sudjojono secara rinci.

Sudjojono juga harus membangun studio khusus untuk dapat menampung lukisan berukuran 3×10 meter tersebut dan merampungkan lukisan ini selama tujuh bulan.

Jika kita cermati, sketsa-sketsa dan catatan yang dibuat Sudjojono untuk Pertempuran antara Sultan Agung dan JP Coen mewakili semangat dan idealismenya dalam menilik sebuah peristiwa bersejarah.

Tak pelak, yang muncul dari kumpulan guratan dan catatan yang terperinci tersebut adalah semangat nasionalisme seperti yang selalu ditampilkan Sudjojono.

“70% dari lukisan ini adalah fakta berdasarkan riset-riset yang ia lakukan, dan 30% sisanya adalah imajinasinya berdasarkan laporan dan fakta-fakta yang ia dapatkan melalui riset,” demikian papar Santy Saptari, kurator pameran.

Pameran ini merupakan salah satu upaya S. Sudjojono Center beserta keluarga Rose Pandanwangi Sudjojono serta Tumurun Private Museum dalam mendukung usaha Museum Sejarah Jakarta dalam mengupayakan agar lukisan Pertempuran Antara Sultan Agung dan JP Coen dan sketsa-sketsanya dapat terdaftar menjadi benda cagar budaya nasional.