fbpx
Mainteater Tidak Main-main Menggarap Mind Theater

Mainteater Tidak Main-main Menggarap Mind Theater

Mainteater, kolektif teater lintas batas ini sepertinya belum juga terpuaskan dahaganya dalam melakukan eksperimen dan eksplorasi kreatif. Hantaman pandemi yang sudah meluluh-lantakkan banyak sendi kehidupan—termasuk industri dan seni pertunjukan—rupanya tidak mampu membuat Mainteater tunduk, kalah, apalagi menyerah.

Alih-alih patah arang, Mainteater justru berlelaku sebaliknya. Mungkin, sejak pandemi merebak dan sampai hari ini belum juga berhenti menghamparkan pekat duka serta energi negatif ke segala penjuru, Mainteater adalah salah satu kolektif seni pertunjukan yang paling produktif menghelat karya.

Mainteater, Monolog Suara-Suara, karya Christine Brückner, penerjemah Dian Ekawati, 2018 (Dok. Mainteater, Musa Sa’iq)

Di tengah bertubi-tubinya halang dan rintang yang mencuat, Mainteater terbukti tidak kehabisan akal, mereka berimprovisasi, mereka beradaptasi, dan mereka menjejak lebih tinggi melampaui keterbatasan-keterbatasan yang telah tanpa ampun mendera, mencekik, dan memporak-porandakan kehidupan kreatif banyak kelompok lain.

Setelah berkali-kali sukses memindah-tubuhkan panggung ke ranah visual digital, Mainteater menyiapkan lagi sebuah kejutan bagi penikmat karya-karya mereka. Bekerjasama dengan Kath Papas Production, dan didukung oleh Helen Soemardjo Arts Fund dan Bale Darga, Mainteater saat ini sedang dalam tahap final persiapan pertunjukan Waktu adalah Temanku (Time it is My Friend).

Manakala ‘ditodong’ memberikan bocoran mengenai apa dan bagaimana jadinya pertunjukan ini nanti, Asisten Sutradara Faisal Syahreza bercerita bahwa muasal pertunjukan ini berhulu dari diskusinya bersama Sandra Fiona Long, Sutradara Mainteater yang bermukim di Australia.

“Aku dan Sandra berusaha melihat adakah kemungkinan menciptakan sebuah pertunjukan di masa pandemi ini yang lebih menyenangkan dan berdampak healing. Jadi, kami ingin sekali menampilkan ‘waktu’ yang meruah sebagai teman,” paparnya.

Mainteater, Waktu adalah Temanku (Time it is My Friend), Sandra Fiona Long, Faisal Syahreza, 2021 (Dok. Mainteater, Musa Sa’iq)

Menurut Faisal, awalan naskah untuk pertunjukan ini berupa catatan-catatan naratif dan dialog-dialog persuasif. Namun, seiring dengan proses kreatif yang berlangsung, narasi dan dialog tersebut menjelma ke bentuk-bentuk yang bersentuhan dan responsif—kolaboratif—dengan aktivitas yang terjadi di rumah.

Lebih jauh, Faisal menuturkan bahwa pertunjukan Waktu adalah Temanku (Time it is My Friend) sangat mungkin untuk berkembang—dalam artian bahwa aktivitas di rumah adalah peristiwa yang sangat jarang dilihat sebagai sesuatu yang kokoh.

“Mungkin karena rumah sangat pribadi dan tindak sangat terbatas. Jadi, sulit membuatnya menjadi menginspirasi atau minim aksi,” demikian terang Faisal.

Mainteater, Hades Fading (Hades Memudar)-La Mama Courthouse, Australia, 2021 (Dok. Mainteater, Musa Sa’iq)

Waktu adalah Temanku (Time it is My Friend) akan menjadi sebuah pertunjukan dalam tiga bahasa: Indonesia, Inggris, dan Jepang. Penggunaan multi-bahasa ini dibesut Mainteater sebagai solusi agar pementasan bisa dinikmati oleh seluruh penonton, baik di tanah air maupun di luar negeri.

Pertunjukan ini memanfaatkan platform tatap muka digital dengan memadukan lakuan dari aktor-aktor yang berada di tempat-tempat yang berbeda, masing-masing akan berada di depan kamera secara langsung (live) untuk kemudian dipadukan dalam satu layar oleh tim multimedia untuk dinikmati penonton sebagai sebuah pertunjukan utuh.

Produksi pementasan digital ini merupakan kolaborasi antara Mainteater dengan seniman-seniman di Melbourne, Australia melalui pemanfaatan teknologi multimedia. Seperti yang sudah-sudah, Mainteater selalu menyiapkan kejutan dan tidak main-main dalam membangun struktur theater of mind untuk dinikmati oleh penonton.

Mainteater, Hades Fading (Hades Memudar)- NuArt Sculpture Park, Bandung, 2019 (Dok. Mainteater, Musa Sa’iq)

Faisal Syahreza menuturkan bahwa memang tantangan terbesar dalam memproduksi sebuah pementasan digital yang memanfaatkan jaringan internet seperti ini adalah adanya kemungkinan-kemungkinan yang timbul dari gangguan teknis, terutama gangguan sinyal internet. Mengingat lalu-lintas data dalam jaringan internet di negara kita masih belum dapat dipastikan kestabilannya sepanjang waktu.

“Secara kerja kreatif justru memang jadi mengasyikan—pertama, template panggung yang baru harus ditaklukan oleh Bulqini dan tim artistik, memilah dan memilih bunyi yang tetap stabil oleh Rov dan Ria, operasional platform yang cocok oleh Aji, dan seterusnya. Itu semua adalah tantangan tersendiri yang setiap hari saling menindih tetapi kami menemukan keluwesan dan lebih bersabar saja. Alias menikmatinya,” papar Faisal sembari terkekeh.

Penayangan perdana Waktu adalah Temanku (Time it is My Friend) akan diluncurkan di kanal Youtube Mainteater Bandung pada tanggal 27 Februari 2021, pukul 19.00 WIB.

Produksi pertunjukan ini masih membuka pengumpulan dana, baik dari penjualan tiket maupun donasi. Anda bisa mendapatkan katalog lengkap pertunjukan di laman web mainteater.org atau menyambangi akun sosial media mereka untuk mendapatkan informasi terbaru.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.