fbpx
Kata dan Pengalaman, Catatan Goenawan Mohamad tentang Puisi Sapardi Djoko Damono

Kata dan Pengalaman, Catatan Goenawan Mohamad tentang Puisi Sapardi Djoko Damono

Sapardi Djoko Damono, sastrawan yang kita cintai itu, hari ini telah genap dua bulan mangkat. Dan, dalam dua bulan ini, karya-karyanya masih terus dibicarakan dan dirayakan, terutama di kanal-kanal digital karena adanya keterbatasan ruang dan gerak saat ini yang mengharuskan kita menciptakan cara-cara baru untuk bertemu.

Dari sekian banyak eulogi, penghormatan, dan perayaan terhadap Sapardi dan karya-karyanya itu, salah satunya adalah tulisan Goenawan Mohamad. Catatan ini telah dimuat di Majalah.Tempo.co pada 25 Juli 2020. Kultural.id menayangkan kembali dengan izin penulis.

Sapardi Djoko Damono (lahir 20 Maret 1940) mangkat tepat dua bulan yang lalu, hari Minggu, 19 Juli 2020 dalam usia 80 tahun.

KATA dan PENGALAMAN

Sebuah Penghormatan untuk Puisi Sapardi Djoko Damono

Oleh Goenawan Mohamad

Penyair menebus kembali pengalaman dengan cinta yang sederhana.

Puisi terbaik—dan sajak-sajak Sapardi Djoko Damono adalah puisi yang sangat baik—menegaskan bahwa pengalaman adalah peng-alam-an: proses keterlibatan dengan “alam”—akrab di tengah dunia yang hidup, tumbuh dan merapuh, majemuk dan dalam, acap kali memesona acap kali mengimbau, tak mudah dirumuskan dan umumnya tak lempang. Meng-alam-I adalah masuk menjadi bagian alam, tanpa heboh, merasakan denyut dan demamnya:

Hujan mengenal baik pohon, jalan,

dan selokan—suaranya bisa dibeda-bedakan;

kau akan mendengarnya meski sudah kau tutup pintu

dan jendela. Meski sudah kau matikan lampu.

 

Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh

di pohon, jalan, dan selokan—

menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh

waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan

Dalam baris-baris itu tiba-tiba kita menemukan apa yang hilang dari kehidupan sekarang: sihir, hujan yang hidup, wahyu yang misterius …

Orang mengatakan modernitas datang dan dunia kehilangan pesonanya. Benda hidup dan mati—anasir alam—hanya seperti kupu-kupu yang telah dikeringkan dan ditata di antara pigura. Cuma data. Atau komoditas. Pengalaman hanya sebuah catatan perjalanan; bukan lagi peng-alam-an.

Puisi Sapardi menebus kembali hal-hal alami dari dunia yang datar dan kering itu. Sajak panjang “Perihal Waktu” terasa menyentuh ketika, seraya berbicara tentang kenangan masa kanak dan hidup keseharian masa kini, hari—dengan nama-namanya—datang dan pergi. Dan bagi si bocah, semua itu bukan cuma sebuah siklus rutin:

Terima kasih, Sabtu. Kau telah mengajariku

untuk mencintai Rabu—

Berkali-kali puisi Sapardi memasuki percakapan imajiner yang terasa bersungguh-sungguh atau kocak seperti itu—percakapan antara apa saja:

Puntung rokok dan kursi bercakap tentang seorang

yang tiba-tiba menghela napas panjang lalu berdiri

Bunga plastik dan lukisan dinding bercakap tentang

seorang yang berdiri seperti bertahan terhadap

sesuatu yang akan menghancurkannya

Jam dinding dan penanggalan bercakap tentang seorang

yang membuka pintu lalu cepat-cepat

pergi tanpa menutupkannya kembali

Topeng yang tergantung di dinding itu, yang mirip

wajah pembuatnya, tak berani mengucapkan

sepatah kata pun; ia merasa bayangan orang itu

masih bergerak dari dinding ke dinding; ia

 semakin mirip pembuatnya karena sedang

menahan kata-kata.

***

Dalam puisi Sapardi, “puntung”, “topeng”, “pintu”—benda dan kejadian—bukan simbol. Simbol punya makna yang sudah ditentukan a priori. Sapardi membiarkan makna tiap frasa terwujud dalam proses ketika kita membacanya dari sajak ke sajak. Makna adalah sebuah peristiwa.

Ada situasi terkesima di tiap bait, seakan-akan sang penyair melihat dunia buat pertama kalinya. Ia mirip anak-anak—atau juga seorang Einstein di dapan tamasya kosmologis: kreativitasnya bermula dari ketakjuban primordial itu:

Hanya suara burung yang kau dengar

dan tak pernah kaulihat burung itu

tapi tahu burung itu ada di sana

hanya desir angin yang kaurasa

dan tak pernah kaulihat angin itu

tapi percaya angin itu selalu di sekitarmu

Tapi berbeda dengan seorang ilmuwan, penyair masuk ke bahasa yang tak sama.

Bahasa puisi lain dari bahasa sains. Bahasa sains harus berjalan di tempat. Maknanya dipatok. Presisi dan konsistensi mutlak terjaga. Dengan pengertian yang sama, dibentuk konsep-konsep yang ketat, “pengalaman” dalam sains harus bisa diulang untuk diuji dan dikukuhkan dalam eksperimen yang berbeda. Ada demarkasi yang pasti. Jika kita berbicara tentang “jarak” dalam geometri, kita berbicara dengan makna yang dibatasi lambang “|x-y|”. Jika kita membahas “besi” dalam ilmu kimia, maknanya hanya ditandai lambang “Fe”. Tak ada sisa dari yang tercerap secara indrawi: “jarak” dalam simbol geometri, seperti “besi” dalam tabel kimia, bukan lagi bagian langsung dari apa yang kitra lihat, kita raba, kita hidu.

Mereka, tentu saja, jauh dari peng-alam-an.

Puisi tak memilih bahasa itu. Dan itulah kekuatan sajak-sajak Sapardi: ia bergerak dalam bahasa yang tak hanya terbangun dari “arti”; ia punya sisi lain yang lebih kaya: imaji. Atau metafor.

Puisi memang hidup dalam metafor, bukan simbol, bukan rumus dan definisi. Sementara rumus dan definisi mereduksi dunia pengalaman, metafor justru memperluas rangkumannya. Ia menampilkan satu kejadian (atau benda) tapi sekaligus menghadirkan arah lain. Dalam kata-kata I. Bambang Sugiharto dalam salah satu bagian bukunya, Postmodernisme: Tantangan bagi Filsafat, metafor “di satu pihak mengungkapkan pengalaman pergaulan dengan dunia… dan di pihak lain sekaligus memelihara ambiguitas atau kekayaan pengalaman itu.” Dengan kata lain, metafor adalah pembebasan dari kungkungan konsep. Ia menjangkau keanekaragaman yang dialami.

Metafor memang sering ditampik mereka yang hanya mengutamakan konstruksi logis dalam bahasa. Metafor disangka Cuma ornamen. Tapi sebenarnya ia seperti pelbagai hal di kehidupan: bukan sepenuhnya produk jernih kesadaran. Ia imaji yang juga terbentuk di bawah-sadar, di antara hasrat dan trauma yang terpendam. Metafor “malam” misalnya, tak hanya mensugestikan suasana hening, tapi juga bisa sesuatu yang mengancam.

Ketika puisinya mulai bergeser dari ekspresi liris ke deskripsi naratif—dari sajak-sajak tahun 1960-1970an ke sajak-sajak di awal abad ke-21—Sapardi mencoba sesuatu yang baru: ia mnggelembungkan sebuah metafor dan menjadikannya sebuah alegori.

Sajak panjang Namaku Sita menuturkan satu bagian hikayat Ramayana yang hampir tak pernah dipentaskan: nasib Sita setelah dibebaskan dari kungkungan Rahwana dan dibawa kembali ke istana suaminya.

Sajak 48 halaman ini seakan-akan teks lakon wayang kulit; ia dimulai dengan janturan dalang. Tapi segera kita tahu di sini tak berlaku pakem klasik. Bahasa Dalang dan para tokoh lugas. Ironi menyusup di mana-mana. Tak ada jejer istana. Tokoh pertama Sita, bukan seorang putri, tak ada hubungannya dengan darah biru—meskipun ia, sebagaimana cerita aslinya, permaisuri Rama dari kerajaan Ayodya:

 Namaku Sita, galur artinya:

Celah oanjang di sawah

Yang sedang dibajak—

Perempuan maknanya.

Namaku Sita, galur artinya,

Lahir dari celah tanah basah.

 Idiom dan rima sajak ini konvensional; baris-baris seakan-akan berakhir seragam “a” atau “I” tanpa elemen yang sumbang. Tapi strukturnya sama sekali baru. Ada bagian Dalang, bagian ginem para wayang, dan opini penonton.

Dan, akhirnya, sebuah metamorfosis. Dalam perjalanan menuju istana suaminya, Sita berkelok:

DALANG:

Perempuan yang tak bisa dieja

Perempuan yang di luar sabda—

Dijemput ia dari pakuwon di hutan

Oleh Rama dan kedua putranya

Untuk diboyong kembali ke istana.

Namun, di jalan dilihatnya

Sawah yang sedang dibajak

Maka meloncatlah ia dari tandu

Berlari menyusur galur

Dan menelungkup di tanah arugan—

Lenyap ke Ibu yang melahirkannya.

SITA:

Sita nama saya, ya, Sita nama saya

setiap hari mengendarai motor

agar tidak terlambat sampai di kantor.

Tak tahu lagi di mana suami saya—

mungkin ia tidak ingin merdeka

dari penjara aksara ke Kitab Purba

menyalakan api yang sia-sia

Tanah arugan, sawah yang diolah, adalah metafor yang mengandung protes: Sita memilihnya. Ia menolak kehidupan istana, menolak diletakkan di singgasana Ayodya, menolak hanya jadi paraphernalia Rama dan kekuasaannya. Ia direbut kembali ketika nyaris jadi inventaris orang lain, tapi segera ia tahu ia hanya jadi pelengkap kesempurnaan takhta. Ia pun masuk ke sawah tempat tubuh dan kerja memproduksi sesuatu yang autentik. Dengan metamorfosis yang mengejutkan, dalam sebuah permainan ironi, ia jadi “perempuan di luar sabda” yang posisi dan identitasnya tak ditentukan kamus patriarki: perempuan yang tiap hari naik motor cari nafkah, sementara suaminya entah di mana, mungkin “tidak ingin merdeka”.

***

Ketika puisi beralih dari ekspresi yang liris menjadi cerita, bahasa cenderung memberat ke sisinya yang komunikatif.

Sejak sajak-sajak awalnya Sapardi memang menampakkan tendensi itu: barisan kalimatnya runtut, tidak ada interupsi yang disonan. Tapi puisi Sapardi kian lama kian peka akan bunyi, imaji, ide, gerak tubuh, dan emosi yang tiap kali beralih. Sajak-sajaknya selalu berkelok mendadak, membiarkan diri dicegat dengan frasa yang tak terduga. Sajak “Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro?” puncak puisi seperti itu: gubahan terbagus dalam sejarah sajak panjang sastra Indonesia:

Ada berita apa hari ini, Den Sastro? Siapa bertanya? Ada kursi goyang dan koran pagi, di samping kopi. Huruf, seperti biasanya, bertebaran di halaman-halaman di bawah matamu, kau kumpulkan dengan sabar, kau sulap menjadi berita. Dingin pagi memungut berita demi berita, menyebarkannya di ruang duduk  rumahmu dan meluap sampai ke jalan raya. Ada berita apa hari ini, Den Sastro? Kau masih bergoyang di kursimu antara tidur dan jaga, antara cerita yang menyusuri lorong-lorong otakmu dan berita yang kau kumpulkan dari huruf-huruf yang berserakan itu.

Sudah sejak lama cahaya pagi yang kaki-kakinya telanjang tidak pernah lagi menyapamu Selamat Pagi; ia hanya berjalan-jalan di depan rumahmu, tak dipahaminya timbunan huruf itu…

Di ruang terbatas ini saya hanya bisa mengutip bagian awalnya. Tapi di sinipun kita sudah bersentuhan dengan banyak elemen gerak dan transisi visual. Sajak ini memukau. Juga menarik: Sapardi tak lagi memilih judul yang puitik atau angker (“DukaMU Abadi”); ia menyebut nama “Den Sastro”—penanda yang lucu dan banal. Dari paragraf ke paragraf puisi ini bercakap-cakap dengan ‘kau”, tapi mungkin juga dengan diri sendiri, seperti The Love Song of J. Alfred Prufrock T.S. Elliot, monolog tentang pak tua di pojok dunia yang resah. Ada melankoli, tapi suasana tak putus-putusnya ditingkah deskripsi yang mengasyikkan: sinar matahari “berjalan-jalan di depan rumah”, dingin pagi “memungut berita”.

Alhasil, sebuah perlawanan: pengalaman tak dibiarkan jadi kering oleh waktu. Di dalamnya aku dan kau, kau dan alam sekitar, saling lebur dalam mimesis. Dan mimesis, kata Adorno, adalah bentuk cinta yang asli, der Urform von Liebe. Atau, dalam kalimat Sapardi, bentuk cinta yang sederhana: cinta yang mengharukan antara Den Sastro dan dunianya yang usang.

Langsung atau tak langsung, puisi Sapardi membawa kita menemukan terima kasih yang tak selamanya dikatakan. Mungkin kepada Hidup. Mungkin kepada Tuhan.

 

Jakarta, 25 Juli 2020

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.