fbpx
Farida Oetoyo Melintasi Samudera dan Benua Mempelajari Balet

Farida Oetoyo Melintasi Samudera dan Benua Mempelajari Balet

Farida Oetoyo Bersama Alla Mikhailovna

Perjalanan hidup Farida Oetoyo kembali menuntunnya pada dunia balet. Pada tahun 1961, Suriadi Suryadarma, Kepala Staf Angkatan Udara RI ketika itu menawarkan kepada Farida untuk mengambil beasiswa akademi balet di Moskow, Rusia.

Farida yang saat itu berusia 21 tahun berangkat menaiki pesawat Aeroflot menuju Moskow ikut bersama dengan Presiden Joseph Broz Tito dari Yugoslavia beserta istri dan para pengawalnya yang sedang berada di Jakarta dalam kunjungan kenegaraan di Indonesia.

Farida tiba di Bolshoi Classical Ballet Academy dengan status guest student. Di akademi ini Farida bertemu dengan seorang guru yang bernama Alla Mikhailovna Lenina mempelajari balet aliran Vaganova. Aliran yang diciptakan oleh Agrippina Vaganova inilah yang diajarkan di Akademi Balet Bolshoi dan di seluruh sekolah balet di Uni Soviet serta menyebar ke seluruh dunia.

Pizzicatti with Caridad Tchikovsky Theatre

 

Pas De Deux Class 1963

Di dalam autobiografinya Farida mengungkapkan, “Di Rusia, balet merupakan kesenian yang paling dihargai. Menjadi seorang ballerina, belajar balet di Akademi Balet Bolshoi merupakan dambaan  hampir setiap putra-putri keluarga di Uni Soviet untuk mendapat lulus dan menari di panggung Bolshoi. Para murid harus bekerja keras mengikuti kurikulum yang sangat ketat, terdiri dari Classical Class, Pas de deux Class, Character Classes, Historical Dances, History of Music, History of Ballet, Stage Make Up, Dramaturgi – seni peran, piano dan untuk murid yang belajar dari awal tentu ditambah dengan sekolah formalnya.”

Sadko Bolshoi Theatre Moskow

The Graduation Concert, Bendera Merah Putih Berkibar di Teater Bolshoi 1965

Graduation Concert Bolshoi Theatre 1965

Setelah empat tahun berjuang di Akademi Balet Bolshoi, kemampuan balet Farida Oetoyo diuji dihadapan Dewan Penguji yang terdiri dari sepuluh guru balet terkemuka di akademi. Setiap murid yang lulus ujian, dipilih untuk tampil dalam The Graduation Concert di Teater Bolshoi membawakan tarian yang koreografinya sudah ditentukan.

Ratusan penonton memadati gedung pertunjukan Teater Bolshoi pada acara The Graduation Concert. Farida Oetoyo membawakan koreografi yang dibuat khusus untuknya oleh Alla Mikhailovna diiringi music Rachmaninov. Acara ini dihadiri Duta Besar RI Manai Sophian. Sang Saka Merah Putih berkibar di depan Teater Bolshoi sebagai tanda ada anak bangsa Indonesia dari Akademi Balet Bolshoi menari di Graduation Concert. Inilah momentum untuk pertama kalinya bendera Merah Putih berkibar di Teater Bolshoi.

Surat Farida Oetoyo kepada Alla Mikhailovna dalam Bahasa Rusia

Juni 1965, Farida Oetoyo menari dan diwisuda di Teater Bolshoi pada Graduation Concert menyandang gelar Artist of the Ballet dengan nilai cum laude yang tertera di ijazah.

 Fullbright Fellowship Columbia University, New York

Kesempatan selalu datang kepada Farida Oetoyo untuk melengkapi kemampuannya di dunia balet. Beberapa waktu berselang di rentang waktu 1973 – 1974 setelah menyandang gelar Artist of the Ballet, Farida bertemu dengan Asrul Sani di Dewan Kesenian Jakarta membahas kesempatan untuk mendapatkan beasiswa studi lanjutan di Amerika Serikat.

Farida Oetoyo berhasil mendapatkan beasiswa dari Fullbright Foundation untuk melanjutkan pendidikan di Dance Department, Columbia University, selama satu tahun. Di tempat ini Farida mengambil mata pelajaran tari modern dan teknik Merce Cunningham.

Pararel dengan itu Farida juga mengeksplorasi sendiri beberapa studio tari yang ada di New York, di antaranya studio tari Jeofrey Ballet yang beraliran klasik; Martha Graham School of Contemporary Dance yang beraliran kontemporer sampai Alvin Nikolai yang sangat kontemporer.

Bekal yang didapat oleh Farida selama berada di Amerika yaitu kebebasan dalam menciptakan kreativitas. Di dalam autobiografinya Farida mengungkapkan, ”Saya mengambil gaya dari setiap guru, dengan pemikiran bahwa seniman boleh berkreativitas sebebas mungkin. Tidak perlu terikat dengan pakem bahkan keluar dari pakem.”

Ketika tiba di tanah air, Farida menjawab pertanyaan para wartawan mengenai apa yang didapat selama di Amerika, “Sebuah keyakinan yang semakin mantap, walau bagaimanapun dunia Timur jauh lebih kaya daripada Barat. Bahwa Indonesia memberikan kemungkinan tak terhingga untuk kreasi baru.”

Artikel terkait Farida Oetoyo Lainnya

Lutfi Dananjaya
Penulis Lepas. Alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjajaran.

Reda Gaudiamo
Seniman dan Sastrawan. Penulis novel “Na Willa“.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.