fbpx
Dongeng Bias Akan Ditampilkan dalam Virtual Exhibition Digital Folklore Festival 2020

Dongeng Bias Akan Ditampilkan dalam Virtual Exhibition Digital Folklore Festival 2020

Ilustrasi dongeng ‘Bias’ karya Titien Wattimena yang merupakan narasi dalam album solo Tohpati akan dihadirkan dalam Virtual Exhibition, menampilkan sembilan seniman visual tanah air.

Perhelatan Digital Folklore Festival 2020 (DFF 2020) masih berlanjut. Gelaran yang mengusung dongeng dan cerita rakyat sebagai bagian dari folklore nusantara ini dibuat sebagai alternatif baru dalam upaya pelestarian tradisi bercerita yang telah kita miliki berabad-abad lamanya.

Selain untuk merayakan dan melestarikan  dongeng-dongeng dan cerita rakyat tradisional ke dalam bentuk penyampaian dan alih media yang lebih baru dan relevan, DFF 2020 juga mendorong tumbuhnya kreativitas dalam menciptakan dongeng-dongeng baru.

Kebaruan, sebagaimana perubahan, adalah sebuah keniscayaan yang tidak dapat kita hindari. Namun, adanya kebaruan tersebut tidak serta-merta berarti menggantikan segala sesuatu yang lama dan telah ada sebelumnya.

Dalam DFF 2020, dongeng-dongeng dan cerita rakyat tradisional disegarkan dan diremajakan dalam ingatan kita dengan memanfaatkan media digital yang modern, melampaui batasan-batasan ruang, jarak, dan waktu.  Para pendongeng, yang didominasi orang-orang muda, dalam ajang Berbagi Dongeng DFF 2020 terlihat fasih dalam memberdayakan piranti-piranti digital dan secara kreatif mengemas kembali dongeng-dongeng tradisional menjadi karya baru yang segar.

Namun, DFF 2020 tidak hanya menyajikan dongeng-dongeng tradisional. Dalam program lanjutan DFF 2020, terdapat juga karya dongeng baru yang diharapkan mampu memperkaya khasanah folklore nusantara dan terus menghidupkan tradisi bercerita yang kita miliki.

Dongeng baru yang diangkat dalam DFF 2020 adalah dongeng berjudul Bias karya penulis skenario, sutradara, dan produser kenamaan Titien Wattimena.

Sejatinya, dongeng Bias ditulis Titien sebagai narasi yang dimuat dalam album solo gitar milik pemusik Tohpati dengan judul yang sama.

Bias merupakan album solo saya yang keduabelas. Album ini merupakan album solo gitar akustik, jadi, tidak ada player lain. Saat itu, saya meminta Titien Wattimena untuk menulis sebuah cerita yang berkesinambungan dari satu lagu ke lagu berikutnya sehingga menjadi sebuah cerita yang utuh secara keseluruhan,” demikian diceritakan Tohpati kepada Kultural.id.

Ketika menceritakan tentang album yang dirilis tahun 2018 ini, Tohpati menyebutkan bahwa Bias mengusung konsep yang sederhana, lagu-lagu di dalam album ini mudah dicerna dan dinikmati.

“Dalam menciptakan lagu, saya selalu ingin menciptakan aura yang positif, menggembirakan. Di album Bias juga begitu, saya berharap semua orang yang mendengarkan setiap lagu dalam album ini menjadi bahagia, senang, dan merasa lebih baik,” ujar Tohpati sembari menyebutkan bahwa artwork untuk cover album ini dibuat oleh anaknya, Saskia Gita Sakanti.

Dalam kesempatan lain, Titien Wattimena, penulis dongeng Bias, menceritakan bahwa sebenarnya ide tentang dongeng ini sudah ada sebelum pengerjaan album Bias bersama Tohpati.

“Idenya sendiri sudah lama, jauh sebelum Tohpati minta. Hasil ngobrol mengkhayal bareng seorang teman tentang putri dengan sejuta luka di wajahnya yang kemudian bertemu dengan pangeran berkepala cermin. Aneh ya? Hahaha,” kenang Titien.

Namun, menurut Titien, dalam dongeng Bias, cerminnya diubah menjadi berada di dalam sepasang mata sang Pangeran.

Saking beningnya mata pangeran itu. Plus, tentu saja, terdapat pengembangan di sana-sini tentang universe sang Putri. Seperti apa negerinya, seperti apa aturan-aturannya. Dan, hasilnya pas dengan apa yang diinginkan Tohpati, sesuai dengan judul-judul lagunya,” papar peraih berbagai penghargaan film yang mengaku menyukai dongeng-dongeng HC Andersen ini.

Sembilan bagian cerita dalam dongeng Bias sebelumnya telah pula disajikan dalam bentuk seri pembacaan dongeng dalam DFF 2020. Dian Sastrowardoyo, Reza Rahadian, Wulan Guritno, Tora Sudiro, Lukman Sardi, Rio Dewanto, Atiqah Hasiholan, Cut Mini, dan Shelomita masing-masing membacakan satu bagian dari dongeng tersebut.

Dalam program DFF 2020 selanjutnya, ilustrasi dongeng Bias akan menjadi materi yang diangkat ke dalam program Virtual Exhibition. Pameran virtual yang didukung oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) ini rencananya akan berlangsung pada 20-28 Oktober 2020.

Pameran virtual ilustrasi dongeng Bias melibatkan sembilan orang ilustrator yang telah menghasilkan banyak karya dengan karakter dan gaya masing-masing.

Ilustrator yang akan berpartisipiasi dalam pameran virtual ini adalah Muhammad Taufiq ‘Emte’, Age ‘Tutugraf’ Airlangga, Safiera Amelia Kurnia, Komikrukii, Cecil & Ryno, Nathan Silaban, Nadya Noor, Gandhi Setyawan, dan Djayanti Aprilia. Dalam tim kuratorial diisi oleh kurator Bambang ‘Toko’ Witjaksono dan Eunice Nuh. Sementara itu, artistik dilaksanakan oleh Mattaniah Nuh.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.