fbpx
Dekat-dekat Jauh (So Close Yet So Far), Percakapan Seni Rupa Australia-Indonesia

Dekat-dekat Jauh (So Close Yet So Far), Percakapan Seni Rupa Australia-Indonesia

Menurut “The State of Southeast Asia 2020,” survei terbaru yang diselenggarakan oleh ISEAS-Yusof Ishak Institute (sebelumnya bernama Institute of Southeast Asian Studies), masyarakat Australia dan Indonesia tidak melihat satu sama lain sebagai saling dekat atau saling dapat diandalkan meskipun secara geografis cukup berdekatan.

Sementara itu, jajak pendapat yang dilaksanakan oleh Lowy Institute pada tahun 2020 menunjukkan bahwa warga Australia masih menunjukkan pengetahuan dan tingkat kepercayaan yang relatif masih rendah terhadap Indonesia. Hanya 39% penduduk Australia yang setuju pada pernyataan bahwa Indonesia adalah negara demokrasi.

Meskipun Australia dan Indonesia secara formal telah menjalin Kemitraan Strategis Komprehensif (Comprehensive Strategic Partnership), masih terdapat ruang yang cukup besar untuk membangun rasa saling pengertian, dan hubungan antar bangsa yang lebih erat dan mendalam.

Santy Saptari Art Consulting bekerjasama dengan Asialink Arts at The University of Melbourne, Australia akan menyelenggarakan serial diskusi berjudul Dekat-dekat Jauh (So Close Yet So Far).

Melalui kacamata seni rupa, rangkaian percakapan ini bertujuan untuk menanyakan, ‘apa yang dapat dilakukan seni untuk membangun pemahaman dan kepercayaan antarbangsa?’ Dan, ‘apakah kesadaran dan keakraban yang lebih besar darisebuah karya seni yang diproduksi di suatu tempat mampu mendorong terciptanya sebuah hubungan yang lebih dalam?’ Secara tidak langsung, rangkaian diskusi ini hendak mempertanyakan apakah ‘jiwa suatu bangsa’ dapat terlihat melalui karya seni yang dihasilkan dan apakah karya seni tersebut dapat menghadirkan pemahaman yang memperkaya kapasitas kita dan mendekatkan hubungan antar bangsa.

Rangkaian diskusi daring ini dibangun berdasarkan hasil kerja para pelaku yang dalam jangka panjang telah berkomitmen dalam mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dialog ini bertujuan untuk meningkatkan hubungan dan kesadaran di dalam sektor seni visual Indonesia dan Australia dan berkontribusi pada peningkatan kedekatan, keakraban, dan kolegialitas pelaku seni antar kedua bangsa. Program ini menerapkan perspektif yang beragam dengan fokus untuk menggali ide-ide yang nantinya dapat diterapkan dalam tindakan-tindakan pragmatis.

Dekat-dekat Jauh (So Close Yet So Far) diselenggarakan atas dasar pemikiran bahwa seni dan budaya dapat membangun dan mempercepat pemahaman antara Australia dan Indonesia, membuka jalan untuk hubungan bilateral yang lebih kuat dan lebih berkelanjutan. Rangkaian diskusi yang dilaksanakan dalam bahasa Inggris ini akan merekam dan meninjau setiap sesi dan menyaring, menganalisis dan memperdebatkan masalah yang diangkat. Perangkat-perangkat pelaksana rangkaian percakapan ini berupaya untuk menjangkau audiens yang luas dan beragam dari kedua negara.

Serial diskusi yang akan disampaikan dalam bahasa Inggris ini akan diselenggarakan secara virtual melalui platform Zoom pada bulan Februari dan Maret 2021, dengan pembicara dan audiens dari Australia dan Indonesia. Diskusi panel ini dikemas sebagai sebuah kesatuan ‘Seri Percakapan’ yang terdiri dari 4 percakapan, berurutan dilaksanakan setiap hari Sabtu mulai tanggal 27 Februari, 6 Maret, 13 Maret, dan 20 Maret 2021.

Artists Insights: Exhibit, Exchange, Co-Create sebagai tema sesi perdana dari rangkaian diskusi ini akan diselenggarakan pada hari Sabtu, 27 Februari 2021 pukul 13.00 WIB atau 17.00 AEDT. Dialog akan memusatkan perhatian pada pengalaman masing-masing panelis di Australia dan Indonesia dalam melakukan eksplorasi konteks-konteks profesional, sosial, dan kultural.

Para pembicara dalam sesi pertama kelak adalah Abdul-Rahman Abdullah (Australia), Febie Babyrose dari kolektif Tromarama (Indonesia), Jumaadi seniman berbasis di Sydney yang berkarya di Australia dan Indonesia, serta Tintin Wulia seniman dan periset Indonesia-Australia. Sesi diskusi panel pertama ini akan dimoderatori oleh Bala Starr, seorang kurator, penulis, dan produser kultural. Bala Starr saat ini menduduki posisi Direktur La Trobe Art Institute di La Trobe University, Melbourne, Victoria, Australia.

Untuk mendaftar menjadi peserta dalam diskusi panel ini, anda dapat mengunjungi laman situs Santy Saptari Art Consulting dan Asialink Arts atau laman media sosial mereka.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.