fbpx
Catatan Kuratorial Digital Folklore Festival 2020 Virtual Exhibition

Catatan Kuratorial Digital Folklore Festival 2020 Virtual Exhibition

Gelaran Digital Folklore Festival 2020 (DFF 2020) telah berlangsung sejak bulan Juni yang silam. Program ini diselenggarakan oleh Kultural.id dengan menyajikan dongeng dan cerita rakyat sebagai bagian dari kekayaan folklore Indonesia dalam format yang mudah diakses, modern, dan interaktif.

Sebagai bagian dari DFF 2020, Virtual Exhibition hadir dengan membawa format yang berbeda, yaitu dengan menampilkan karya visual dalam sebuah pameran virtual. Format ini dibuat untuk melengkapi program DFF 2020 yang sejak awal bermaksud menyajikan dongeng melalui medium digital. Dengan tujuan yang sama, yakni menyalakan kembali kecintaan terhadap budaya bercerita yang merupakan salah satu cara penyampaian pesan dalam tradisi bangsa kita.

Para seniman visual dalam DFF 2020 Virtual Exhibition diajak untuk menerjemahkan ulang dan memaknai kembali isi naskah dongeng Bias karya Titien Wattimena dengan lebih longgar, tidak serta merta hanya menjadi ilustrasi belaka – Bambang ‘Toko’ Witjaksono, Kurator

Seperti layaknya tulisan, gambar juga merupakan media penyampai pesan yang telah digunakan sejak lama. Pesan yang dibawa dapat mengandung makna baik secara langsung maupun makna yang tersirat. Namun, di samping sebagai medium penyampai pesan, gambar juga dapat dinikmati sebagai sebuah karya seni.

Dengan memanfaatkan ruang digital yang memungkinkan adanya interaksi yang menembus batas-batas jarak, fisik, ruang, dan batas-batas waktu, pameran virtual ini dilaksanakan dengan mengedepankan harapan bahwa karya seni dapat dinikmati oleh khalayak yang lebih luas. Virtual exhibition juga diharapkan menjadi salah satu solusi bagi banyak pihak pelaku pelaku dan komunitas ekonomi kreatif agar tetap dapat menampilkan karyanya di masa pandemi ini.

Tentunya, memang banyak hal baru yang perlu dipelajari. Dari bagaimana membangun ruang pameran virtual yang mumpuni serta menarik, bagaimana pengaturan karya bahkan hingga bagaimana untuk memasuki pameran tersebut, memang sangat terkait dengan banyak hal teknis namun juga merupakan sebuah fenomena yang menarik.

Tim DFF 2020 Virtual Exhibition, segenap tim kuratorial, panitia, dan semua pihak yang terkait berusaha menyajikan yang terbaik dengan segala keterbatasan yang sedang kita hadapi saat ini. Berikut kami lampirkan teks kuratorial yang menjadi nafas pameran ini.

Catatan Kuratorial

Pameran ini adalah bagian dari Program Digital Folklore Festival tahun 2020. Sengaja dipilih pameran visual untuk memaknai kembali folklore (cerita rakyat) dengan bahasa gambar, karena gambar dianggap mampu tidak hanya menerjemahkan naskah, tetapi bahkan memaknainya lebih luas, menjadi sebuah teks baru.

Naskah dongeng yang dibuat visualisasi/ilustrasinya adalah karangan Titien Wattimena berjudul Bias. Kami mengajak sembilan orang seniman visual untuk menerjemahkan ulang dan memaknai kembali isi naskah dongeng Bias dengan lebih longgar, tidak serta merta hanya menjadi ilustrasi belaka, sehingga urutan visualisasi tidak lagi harus berpatok pada urutan pada naskah dongengnya.

Pemaknaan baru sebuah naskah, terutama tujuan karya sastra (sastra sebagai karya) adalah menjadikan pembacanya bukan lagi konsumen, melainkan produsen teks (Barthes, S/Z: 4). Barthes berpendapat bahwa teks “penulis” lebih penting daripada teks “pembaca” karena ia melihat kesatuan teks selamanya ditegakkan kembali oleh komposisinya, kode-kode yang terbentuk dan terus-menerus meluncur di dalam teks.

Pembaca readerly text sebagian besar bersifat pasif, sedangkan orang yang terlibat dengan writerly text harus melakukan upaya aktif, dan bahkan memerankan kembali tindakan penulis itu sendiri.

Kode berbeda (hermeneutik, aksi, simbolik, semiotik, dan historis) yang didefinisikan Barthes dalam S/Z menginformasikan dan memperkuat satu sama lain, sehingga membuat teks menjadi terbuka ke arah yang tidak pasti, justru karena selalu dapat ditulis ulang menjadi suatu hal baru.

Dengan demikian, maka makna baru yang divisualisasikan tadi pasti juga akan membentuk pemaknaan yang lebih baru lagi dan juga lebih luas lagi.

Naskah dongeng Bias menjadi berkembang dan bisa terus dimaknai sesuai dinamika jaman.

 

Kurator,

 

Bambang ‘Toko’ Witjaksono

Eunice Nuh

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.