fbpx
Catatan Akhir Tahun Kultural: FEBY INDIRANI

Catatan Akhir Tahun Kultural: FEBY INDIRANI

Beberapa hari lagi tahun 2020 akan usai, tahun yang telah mengubah banyak hal dalam diri dan kehidupan masing-masing kita.

Dengan segenap daya di dalam diri, kita telah menjalani tahun penuh gejolak ini dengan sebaik-baiknya, dengan sekuat-kuatnya.

Sebagai bagian dari Catatan Akhir Tahun Kultural, kami berbincang-bincang dengan Feby Indirani, penulis yang sedang bersinar cemerlang, baik di dalam maupun di luar negeri.

Berikut sekelumit percakapan tentang tahun 2020, tentang kehilangan, tentang perubahan, tentang karya, dan hal-hal lain bersama Feby Indirani.

Tahun 2020 dengan pandemi-nya tentu memberi efek kejut yang berbeda-beda bagi setiap orang. Bagaimana efek itu terasa bagi Feby Indirani?

Ya, 2020 memang ‘istimewa’, dengan apapun definisi istimewa itu bagi setiap orang.

Rasanya, hampir semua orang yang saya kenal—termasuk saya sendiri—mengalami kehilangan satu atau bahkan lebih anggota keluarga atau kerabat, baik karena covid-19 ataupun covid related (sulit berobat karena rumah sakit kelebihan kapasitas akibat covid).

Sepupu saya meninggal karena sakit, juga tiga orang rekan dari tempat kerja terdahulu wafat. Di luar itu, banyak tokoh yang saya kagumi juga wafat, misalnya Pak Sapardi Djoko Damono. Terakhir saya ngobrol langsung dengan beliau saat Ubud Writer and Reader Festival 2018 karena kamar kami bersebelahan. Berita-berita sedih di media dan media sosial mewarnai hari-hari kita.

Lebih dari duka cita tetapi persiapan duka cita (anticipatory grief) menjadi sesuatu yang terlalu karib.

Buat saya, tahun 2020 adalah pelajaran tentang dua hal.

Pertama, menerima untuk menerima untuk menerima, termasuk menerima bahwa penerimaan kerap sulit dilakukan, dan bahwa ia sesuatu yang kerap mesti dilakukan berulang-ulang.

Kedua, meluaskan batas, yang sadar tak sadar pernah kita putuskan tetapi biasanya jarang kita tinjau kembali.

Apa hal paling tidak menyenangkan yang terjadi di tahun 2020? Apa yang dilakukan dalam berimprovisasi, beradaptasi, dan terutama ‘tetap waras’ dalam menjalani tahun penuh berita duka ini?

Salah satu sorotan untuk hal tidak menyenangkan adalah Nominasi Sastra Badan Bahasa Kemendikbud, 5 nominasi per kategori untuk 5 kategori yaitu novel, cerpen, puisi, naskah drama, kritik sastra dari 2015-2020, yang artinya ada 25 nominator, all male authors! Epik kan?

Ini 2020, dan diskriminasi seperti itu masih bisa terjadi. Saya marah sekali ketika baru tahu,  sampai tidak bisa tidur. Belakangan, Mbak Oka Rusmini cerita bahwa dia sempat tidak bisa tidur juga karena masalah itu.

Paginya, setelah tidak bisa tidur itu, akhirnya saya memutuskan untuk menulis, pertama posting Facebook dan kemudian artikel di Magdalene.co.

Dan dari tulisan itu,  bergulir respons dari sejumlah pihak. Penulis Oka Rusmini dan aktivis Olin Monteiro dan aku membuat akun instagram Jendela Puan yang didedikasikan untuk mendokumentasikan buku dan pemikiran perempuan.

Isu diskriminasi dan representasi perempuan di dunia penulisan juga didiskusikan, antara lain yang difasilitasi mulai dari Magdalene.co dan Road to Jakarta International Literary Festival oleh Dewan Kesenian Jakarta hingga lembaga pemerintahan seperti kantor bahasa Gorontalo. Salah satu hal menarik juga adalah perkenalan saya dengan beberapa kolektif perempuan (rata-rata mahasiswi) di berbagai daerah yang ingin membangun narasi feminis, yang difasilitasi organisasi Perempuan Mahardhika.  Senang sekali bahwa semakin banyak kalangan yang memprioritaskan perihal representasi perempuan dan kelompok minoritas lainnya dan membangun berbagai inisiatif dan program yang berkesinambungan.

Jadi, barangkali itu jawabannya, bagaimana cara saya berimprovisasi, beradaptasi dan tetap waras menjalani tahun ini: menulis. Apakah itu menulis diari yang awut-awutan, katarsis,  tidak ditujukan untuk dibaca siapapun, dan menulis terstruktur—yang artinya mesti punya jarak tertentu dengan emosi-emosi sendiri—yang ditujukan untuk menjangkau orang lain, dan syukur-syukur punya daya gugah dan gugat.

Feby Indirani

Ketika pandemi ini bermula, apa yang sedang dikerjakan  dan rencanakan, apa yang kemudian dirasa dan pikirkan?

Berita tentang covid-19 mulai marak tepat ketika saya baru kembali ke Jakarta, akhir Januari 2020. Waktu itu memang belum menyangka akan menjadi pandemi. Jadi, fokus saya saat itu masih menyesuaikan diri kembali dengan kehidupan di Jakarta setelah selesai episode London selama lebih dari setahun (reverse cultural shock).

Menyesuaikan diri kembali terdengar sederhana, toh tidak selama itu juga berpisah dengan Jakarta. Namun, ternyata menjalaninya memang tidak selalu sederhana.

Masa paling tidak enaknya  adalah tiga minggu pertama, penyesuaian secara fisik yang berdampak ke psikis, juga sebaliknya. Saat itu, saya sedang merampungkan buku Lentur, Tangkas, Akrab : Diplomasi Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di Inggris Raya 2016-2020.

Februari awal, saya dapat kabar mendapatkan hibah Crossing Borders dari Robert Bosch Stiftung, yaitu riset untuk buku kumpulan cerita ketiga dari trilogi Islamisme Magis di Berlin, Jerman. Saat itu sudah ada rencana untuk menerbitkan buku Memburu Muhammad, dan menerbitkan ulang Bukan Perawan Maria bersama Bentang Pustaka.

Juga ada kewajiban merampungkan buku Arts in Prison untuk Second Chance Foundation, mengenai aktivitas seni yang dilakukan para narapidana yang membuat saya mesti liputan keliling lembaga pemasyarakatan (lapas) di berbagai kota.  Jadi, waktu itu rasanya tahun 2020 bakal sangat padat dan mesti mempersiapkan diri untuk mobilitas tinggi.

Ironis, karena di pengujung 2019, saya mencanangkan 2020 sebagai Tahun Movement, dalam konteks banyak pergerakan secara fisik.

Lalu perubahan apa yg terjadi dalam rasa dan pikir itu, ketika ternyata pandemi berlanjut dan belum bersudah hingga kini?

Ya, perasaan ironis itu tadi. Sebagian ingin menertawakan diri sendiri juga.  Yang terjadi malah berbanding terbalik sepenuhnya, mobilitas secara fisik malah menjadi terbatas.

Di satu sisi, sebagai penulis penuh waktu, atau sebutlah self-employed/freelancer, sudah lama terbiasa work from home. Sempat ada pikiran, ‘Yayy, akhirnya pergerakan dunia ini melambat! Ini waktunya membaca lebih banyak buku/artikel/dll, menonton lebih banyak film/Ted Talk/dll, dan menulis lebih banyak karya!”

Namun, di sisi lain, saya sangat menghargai perjumpaan dan interaksi fisik, dan tidak pernah intens dengan media sosial, dan sekian lama merasa berhasil menghindari ‘tuntutan’ eksis di media sosial yang bagi banyak pihak telah menjadi salah satu indikator keberhasilan.

Jadi, ketika pandemi dan segalanya jadi daring, lalu penggunaan media sosial adalah solusi, ada perasaan lelah dan disconnected (terputus). Dan, hal itu memengaruhi kinerja saya secara pribadi juga.

Menulis kerap jadi lebih lambat dan cepat lelah. Cita-cita untuk belajar lebih banyak dan menghasilkan lebih banyak, ternyata tidak semudah itu terpenuhi— yang kemudian sering membuat kesal dan frustrasi pada diri sendiri juga.

Awal-awal masa pandemi, saya masih berharap di triwulan akhir 2020 mungkin sudah bisa bermobilitas fisik lagi, misalnya melaksanakan program Crossing Borders itu, yang ternyata jauh dari harapan.

Dalam menyelesaikan buku Arts in Prison juga jadi sulit karena belum bisa keluar-masuk penjara. Misalnya, saya pernah mencoba mewawancara narapidana berkebangsaan Taiwan, melalui Zoom (dengan video tidak dinyalakan) dengan penerjemahan seadanya karena bukan dilakukan penerjemah profesional, bisa dibayangkan prosesnya yang cukup menantang.

Salah satu hal yang berubah adalah saya akhirnya memutuskan meluaskan batas toleransi saya pada media sosial dan segala keterhubungan dengan media digital.

Di pengujung 2019, tur ke kota-kota dunia bersama Bukan Perawan Maria aktif sekali dilakukan. Lalu, ketika masuk tahun 2020 bersama pandemi yang menyertainya, apa yang terjadi, apa yang berubah?

Iya, betul (jadi kepingin ketawa ironis lagi). Tadinya, sudah ada pikiran untuk keliling-keliling dengan Maria lagi (Maria pulang kampung). Selain diskusi di Jakarta, misalnya, ada ajakan untuk membuat acara di Solo.

Di Jakarta, akhir Februari sempat membuat satu kali diskusi luring di Post Santa, itu acara luring terakhir saya tahun ini, mungkin terakhir juga untuk Post Santa, ya. Maret awal sempat ke lapas perempuan di Semarang, dan itu juga saat terakhir saya ke luar Jakarta.

Yang jelas berubah adalah frekuensi dan jarak tempuh mobilitas saya yang menurun drastis, juga membatasi acara yang melibatkan pertemuan fisik.

Sejak akhir 2018, sepanjang 2019, sepertinya saya banyak sekali jalan kaki, suatu bagian tidak terpisahkan jika tinggal di atau berkunjung ke kota-kota di Eropa.

Balik ke Jakarta, plus situasi pandemi, pola hidup itu berubah drastis juga. Saya tinggal di Slipi, kampung kota yang padat,  dan untuk bisa berjalan kaki dengan nyaman untuk durasi satu jam atau lebih, pilihannya paling di GBK Senayan saja (bersyukur banget Jakarta punya itu!).

Saya merasa tubuh kadang jadi sakit-sakit dengan perubahan pola hidup itu. Pengalaman tubuh dan fisik yang berubah, sadar tidak sadar pasti berdampak kepada psikis.

Selain itu, pengalaman setahun ini juga membuat saya kembali tersadar betapa saya, dan mungkin sebagian warga Jakarta lain, lebih sering berada di dalam gelembung dan tidak terlalu terhubung dengan kota secara fisik, karena jarang jalan kaki. (Yak, arena jalan kaki di Jakarta masih kurang enak dengan trotoar yang con block-nya rusak-rusak, dan perilaku cat calling yang masih marak).

Secara garis besar, apa saja peristiwa menyenangkan yang terjadi di sepanjang tahun 2020?

Tahun 2020, bagaimanapun tidak semua suram.

Di pertengahan tahun, Juli 2020, saya dan teman-teman meluncurkan Kalyana Kata, suatu lembaga yang berfokus pada penceritaan nonfiksi kreatif teks dan visual, baik sebagai penyedia konten maupun kelas.

Cita-cita membuat lembaga ini sudah saya niatkan sejak akhir 2019, salah satu hal yang ingin diwujudkan selesai fase sekolah di Institute of Education (IOE), UCL.  Itu terjadi setelah selama berbulan-bulan di tahun 2020, saya masih enggan menggunakan media sosial – termasuk grup Whatsapp.

Jadi, ada perasaan ‘keluar dari gua’ ketika merintis Kalyana Kata ini, karena mau tidak mau mesti berhubungan dengan publik di ranah digital. Sejauh ini, kami sudah menjangkau ratusan orang dengan kelas-kelas bercerita kreatif daring, baik yang gratis maupun berbayar.

Di saat yang hampir bersamaan, ada kabar bahwa penerbitan Memburu Muhammad tetap diagendakan tahun ini, setelah sempat tidak ada kepastian kabar dari pihak penerbit yang juga terpukul pandemi.

Draft awal saya selesaikan sudah lebih dari setahun sebelumnya, jadi tentu ada proses saya membaca ulang dan mengedit ulang naskah tersebut. Ada perubahan, cerpen yang didrop, ditulis ulang, juga ada dua cerpen yang baru ditulis dan disesuaikan dengan konteks pandemi. Singkat cerita, Memburu Muhammad akhirnya resmi beredar di November 2020, dan saya terkesima juga dengan gerak cepatnya pembaca Indonesia yang terfasilitasi media sosial. Posting foto, komentar, review, termasuk rating di GoodReads berdatangan setiap hari.

Senang sekali, terima kasih Pembaca Indonesia!

Kabar terbaru di Desember ini, beberapa cerita dari Bukan Perawan Maria akan diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang, dikumpulkan ke dalam antologi karya penulis dari negara-negara Muslim (termasuk pengarang migran di Eropa). Buku ini kelak akan didistribusikan ke perpustakaan universitas dan lembaga-lembaga riset di seluruh Jepang.

Bagaimana dengan laporan penjualan buku tahun ini? Bagaimana perbandingannya dengan tahun lalu?

Belum dapat data angka yang sangat akurat. Namun, menggembirakan karena permintaan terhadap Bukan Perawan Maria masih cukup tinggi. Untuk Memburu Muhammad, November lalu jadi buku nomor 1 yang paling banyak dicari di Dema Buku, salah satu toko buku daring yang cukup diminati pembaca. Buku ini juga kerap direkomendasikan sejumlah toko buku daring lainnya.  Jadi, untuk saya pribadi masih terasa sama baiknya dengan tahun lalu.

 Adakah hubungan antara kenaikan minat terhadap buku tersebut dengan perubahan kebiasaan yang terjadi dalam masyarakat karena pandemi?

Kalau baca berita-berita di negara maju seperti UK dan US, penjualan buku meningkat selama pandemi. Karena orang jadi punya waktu—juga ambisi—lebih untuk membaca lebih banyak buku.

Di Indonesia, saya belum menemukan liputan khusus tentang ini. Terlepas dari pandemi,  harga buku di Indonesia relatif tinggi, sehingga akses orang terhadap buku masih sulit. Saya tidak pernah setuju dengan anggapan minat baca orang Indonesia rendah.

Secara umum, dugaan saya dari mengamati perilaku sebagian orang di media sosial, ambisi orang Indonesia untuk membaca dan membeli lebih banyak buku semasa pandemi juga sama dengan di negara-negara maju, meningkat.

Di sisi lain, daya beli juga berkurang karena situasi sulit. Barangkali hasil akhirnya, jangan-jangan sama, karena daya beli yang turun di sebagian kalangan terkompensasi ambisi sebagian kalangan lainnya.

Yang jelas turun adalah tingkat kunjungan ke toko buku, yang drop hingga lebih dari 80 persen. Pembeli buku dipaksa untuk memiliki kebiasaan baru, yaitu berbelanja buku (termasuk di sini aktivitas memilih-memilih) secara daring. Belanja buku secara daring ini, baik yang muda maupun senior, tidak semua nyaman melakukannya tetapi mau tidak mau mesti memulai kebiasaan baru.

 Sekarang sedang sibuk mengerjakan apa saja?

Hal utama yang mesti diselesaikan sebelum 2020 berakhir adalah buku Arts in Prison.  Adalah keberuntungan buat saya bisa menjadi juri lomba menulis cerpen narapidana anak dan dewasa untuk dua kali lomba oleh Second Chance dan Kemenkumham tahun ini (Agustus dan Desember).

Cerpen-cerpen mereka rata-rata bernuansa memoar atau cerita pengalaman mereka sendiri sebagai narapidana. Dari materi itu, saya tetap terhubung dengan cerita-cerita dari para narapidana, meskipun tidak bisa liputan langsung ke penjara.

Segala pekerjaan dan rencana yang lain yang ditunda, meskipun tetap mesti dilakukan, tapi dikurangi sementara, misalnya diskusi buku daring dan wawancara media.

Bagaimana masa depan industri buku pasca 2020?

Mengamati konteks di negara maju dan di Indonesia, rasanya masih optimistis, baik untuk buku fisik maupun digital.

Sebagian orang menganggap buku fisik adalah masa lalu, hanya dilakukan ‘orang tua’ atau seharusnya jadi masa lalu. Namun, tren di dunia tidak menunjukkan demikian, dan anak-anak muda generasi Z dan Alpha pun masih senang membaca buku fisik.

Membaca buku sebagai pengalaman fisik ternyata belum menjadi sesuatu yang tergantikan, dan tidak perlu tergantikan juga. Teknologi digital melengkapi dan memfasilitasi pengalaman membaca buku dengan satu atau lain cara, dan semua itu memperkaya pengalaman membaca kita.

Di Indonesia, saya kagum melihat kegairahan dan semangat yang melahirkan banyak penerbit-penerbit independen, toko-toko buku daring, komunitas dan klub buku, dan banyak penulis dan karya lahir dari platform digital. Kita bisa saja berdebat tentang mutu tetapi luapan jumlah juga bukan sesuatu yang mesti dipandang remeh.

Pasca 2020, menurut saya, industri buku tetap bertahan, dan tumbuh. Terlepas dari pukulan pandemi yang menghantam hampir semua lini, saya merasa buku termasuk salah satu industri yang tangguh. Mungkin tidak akan pernah jadi industri yang terkaya (misalnya jika dibandingkan dengan jualan TOA/pelantang suara yang jauh lebih mudah).

Namun, rata-rata mereka yang menjalani industri buku melakukannya karena cinta, dan cinta adalah salah satu energi yang paling sulit ditaklukkan.

Dampak apa yang paling besar yang muncul sebagai akibat pandemi bagi kita sebagai manusia, sebagai anggota kelompok masyarakat, dan sebagai warga dunia?
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mungkin inilah saat di mana kita merasa paling terhubung sebagai manusia, sebagai masyarakat dunia. Kita terhubung dengan jejeran mayat di jalan-jalan di Rio de Jainero dan Guayaquil, karena mereka adalah korban covid-19, sesuatu yang juga mengancam kita; terhubung dengan rasa frustrasi yang mendorong demonstran di London dan Berlin yang menolak lock down; terhubung dengan ribuan orang di industri traveling dan kuliner seluruh dunia yang kehilangan pekerjaan.

Untuk pertama kalinya, setelah sekian lama, kita terhubung sebagai warga dunia yang memiliki duka, kecemasan dan pengharapan yang sama. Dampak—sosial, ekonomi, politik, budaya—dari pandemi covid-19 akan jauh melampaui tahun ini tetapi saya berharap setelah ini kita bisa melihat siapa saja dengan latar belakang apa saja, dengan mata yang lebih welas asih.

Ada harapan apa saja untuk 2021?

Hmm… saya menyiapkan diri jika 2021 masih merupakan perpanjangan dari 2020, karena dampak dari apa yang terjadi tahun ini tidak akan diselesaikan dengan vaksin semata.

Namun, sebagaimana kegembiraan, keajaiban keseharian dan keasyikan berjejaring tetap terjadi di 2020, saya bisa memastikan 2021 juga akan seperti itu. Selain itu, saya juga berharap bisa jadi melakukan riset Crossing Borders di Berlin.

Di 2021, Bukan Perawan Maria akan terbit ulang dengan sampul baru, yang semoga dapat menjangkau pembaca yang lebih luas daripada sebelumnya.

Saya juga berharap bisa merampungkan lebih banyak karya, saat ini antara lain sedang mempersiapkan buku esai, dan barangkali sebuah buku puisi—jika saya punya keberanian cukup untuk menerbitkannya.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.