fbpx
Buku Anak Tak Harus Menggurui

Buku Anak Tak Harus Menggurui

Membaca merupakan jalan utama menuju informasi dan pengetahuan. Ia adalah sebuah kemampuan esensial yang kita butuhkan untuk mengenal dan memahami dunia dan segala rupa yang ada di sekitar hidup kita.

Agar terampil membaca, kemampuan ini harus dipupuk dan dipelihara sejak usia dini.

Tak pelak, buku anak adalah gerbang pertama yang akan menghantar seseorang dalam perjalanan panjang pengalaman literasinya seumur hidup.

Nila Tanzil, pendiri Taman Bacaan Pelangi

Nila Tanzil, penulis buku anak dan pendiri Taman Bacaan Pelangi berpandangan bahwa industri buku anak di Indonesia sudah semakin berkembang. Namun, menurutnya, jenis buku yang ditujukan untuk pembaca pemula masih sangat kurang.

“Kebanyakan buku anak di Indonesia adalah untuk anak yang sudah lancar membaca. Penerbit perlu menerbitkan lebih banyak lagi buku-buku cerita untuk pembaca usia dini yang belum terlalu lancar membaca,” ujarnya.

Taman Bacaan Pelangi yang didirikan Nila Tanzil telah membuka akses lebih dari 236 ribu buku cerita anak kepada lebih dari 33 ribu anak. Selain itu, organisasi sosial yang fokus mendirikan perpustakaan anak-anak di daerah terpencil di Indonesia bagian Timur sejak 2009 ini juga telah memberikan pelatihan kepada lebih dari dua ribu guru di Indonesia Timur.

Ketersediaan buku anak usia dini penting sebagai pembentuk pengalaman perdana anak dalam bersentuhan dengan literatur, yang akan ikut membentuk kebiasaan dan kemampuan membacanya kelak.

Bagi anak usia dini, buku berperan baik dalam membantu perkembangan linguistik. Mengenalkannya pada perbendaharaan kata yang baru dan melatih kemampuan untuk berkomunikasi.

Selain itu, imbuh Nila, buku bacaan yang penuh fantasi, dunia anak-anak yang ajaib perlu diperbanyak. Agar anak merasakan ‘the joy of reading’ dan imajinasi mereka berkembang seluas-luasnya.

“Cerita-cerita seperti itu akan membuat pengalaman membaca sangat menyenangkan serta memicu kreativitas mereka,” papar aktivis yang telah mendirikan 134 perpustakaan anak di 18 pulau di Indonesia Timur ini.

“Buku-buku anak yang ada di pasaran juga banyak yang masih kaku, maksudnya, terlalu memaksakan pesan-pesan moral secara gamblang dan, bahkan, di akhir buku ditulis jelas-jelas pesan moralnya. Sebenarnya tidak perlu seperti itu, karena justru akan membuat anak jadi sedang digurui,” ungkapnya.

 

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.