fbpx
Bilbliografi dan Penghargaan yang Diterima Pramoedya Ananta Toer

Bilbliografi dan Penghargaan yang Diterima Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer 1949/Dokumentasi PDS H.B. Jassin

 

Kontroversi Anugerah Magsaysay

Karya yang dihasilkan Pram mendapat banyak apresiasi dari masyarakat dunia. Hal ini dibuktikan dengan berbagai penghargaan yang diterima Pram dari dunia internasional.

Salah satunya, Ramon Magsaysay Award dari Philipina. Penghargaan prestisius untuk kawasan Asia ini diraih oleh tokoh-tokoh penting dunia, seperti Dalai Lama, Bunda Theresa, Corazon Aquino, dan Akira Kurosawa dan dari Indonesia seperti Gus Dur, Syafii Maarif, dan Mochtar Lubis.

Pada 19 Juli 1995, Pram diberi Anugerah Magsaysay oleh Yayasan Ramon Magsaysay di Filipina dalam bidang jurnalisme, sastra, dan seni komunikasi kreatif. Namun  pemberian anugerah itu ditolak sejumlah sastrawan, seniman, dan wartawan Indonesia, seperti Taufiq Ismail, H.B. Jassin, Mochtar Lubis, Asrul Sani, Rendra, Danarto, Mochtar Pabottingi, Rosihan Anwar, Ikranagara.

Mereka meminta Yayasan Ramon Magsaysay tidak melupakan apa yang telah dilakukan Pram di tahun 1960-an. Salah satunya yaitu dianggap telah membungkam kreativitas sastrawan dan seniman Manifes Kebudayaan.
 

Pramoedya Ananta Toer 1951/Dokumentasi PDS H.B. Jassin

Pramoedya Ananta Toer dalam karya (1946 – 2005)

Selama hidupnya Pram mengabdikan dirinya untuk menulis, dirangkum dari beberapa sumber, berikut karya-karya Pramoedya Ananta Toer:

Sepoeloeh Kepala Nica (1946), hilang di tangan penerbit Balingka, Pasar Baru, Jakarta.

  • – Kranji-Bekasi Jatuh (1947), fragmen dari Di Tepi Kali Bekasi
  • – Perburuan (1950), pemenang sayembara Balai Pustaka, Jakarta.
  • – Keluarga Gerilya (1950)
  • – Tikus dan Manusia (1950), karya John Steinbeck yang diterjemahkan oleh Pramoedya Ananta Toer
  • – Kembali pada Tjinta Kasihmu (1950), karya Leo Tolstoy yang diterjemahkan oleh Pramoedya Ananta Toer
  • – Subuh: Tjerita-Tjerita Pendek Revolusi (1951), kumpulan 3 cerpen.
  • – Percikan Revolusi (1951), kumpulan cerpen
  • – Mereka yang Dilumpuhkan (I & II) (1951)
  • – Bukan Pasar Malam (1951)
  • – Di Tepi Kali Bekasi (1951), sisa naskah yang dirampas Marinir Belanda pada 22 Juli 1947
  • – Dia yang Menyerah (1951)
  • – Cerita dari Blora (1952), pemenang karya sastra terbaik dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional. Jakarta, 1953
  • – Gulat di Jakarta (1953)
  • – Midah Si Manis Bergigi Emas (1954)
  • – Korupsi (1954)
  • – Mari Mengarang (1954)
  • – Perdjalanan Ziarah jang Aneh (1954), karya Leo Tolstoy yang diterjemahkan oleh Pramoedya Ananta Toer
  • – Ibunda (1956), karya Maxim Gorky yang diterjemahkan oleh Pramoedya Ananta Toer
  • – Kisah Seorang Pradjurit Sovjet (1956), karya Mikhail Sholokhov yang diterjemahkan oleh Pramoedya Ananta Toer.
  • – Cerita dari Jakarta (1957)
  • – Cerita Calon Arang (1957)
  • – Sekali Peristiwa di Banten Selatan (1958)
  • – Dewi Uban: Opera Lima Babak (1958), karya He Tjing-Ce dan Ting Ji yang diterjemahkan oleh Pramoedya Ananta Toer
  • – Asmara dari Russia (1959), karya Alexander Kuprin yang diterjemahkan oleh Pramoedya Ananta Toer
  • – Kisah Manusia Sedjati (1959), karya Boris Polevoi yang diterjemahkan oleh Pramoedya Ananta Toer
  • – Pertaruhan (1960), karya Anton Chekhov yang diterjemahkan oleh Pramoedya Ananta Toer bersama Koesalah Soebagyo Toer.
  • – Hoakiau di Indonesia (1960), dilarang oleh Pemerintah Indonesia pada masa Demokrasi Terpimpin (Orde Lama).
  • – Panggil Aku Kartini Saja (I & II, 1963; bagian III dan IV dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965
  • – Kumpulan Karya Kartini, dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965
  • – Wanita Sebelum Kartini, dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965
  • – Gadis Pantai (1962-1965) triologi cerita bersambung, bagian pertama tentang keluarga Pramoedya; terbit sebagai buku, 1987; dilarang Jaksa Agung; jilid kedua dan ketiga dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965
  • – Sejarah Bahasa Indonesia, Satu Percobaan (1964); dibakar Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965
  • – Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia (1963)
  • – Lentera (1965)
  • – Bumi Manusia (1980); dilarang Jaksa Agung, 1981
  • – Anak Semua Bangsa (1981); dilarang Jaksa Agung, 1981
  • – Sikap dan Peran Intelektual di Dunia Ketiga (1981)
  • – Tempo Deoloe (1982), antologi sastra pra-Indonesia
  • – Jejak Langkah (1985), dilarang Jaksa Agung, 1985
  • – Sang Pemula (1985), dilarang Jaksa Agung, 1985
  • – Hikayat Siti Mariah, (ed.) Hadji Moekti, (1987); dilarang Jaksa Agung 1987
  • – Rumah Kaca (1988), dilarang Jaksa Agung, 1988
  • – Memoar Oei Tjoe Tat, (ed.) Oei Tjoe Tat, (1995), dilarang Jaksa Agung, 1995
  • – Nyanyi Sunyi Seorang Bisu (1995), dilarang Jaksa Agung, 1995
  • – Arus Balik (1995)
  • – Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II (1997)
  • – Arok Dedes (1999)
  • – Mangir (2000)
  • – Larasati (2000)
  • – Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer (2001)
  • – Cerita dari Digul (ed.), (2001)
  • – Menggelinding I, kumpulan tulisan awal Pramoedya Ananta Toer yang disunting oleh Astuti Ananta Toer. (2004)
  • – Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (2005)
Pramoedya Ananta Toer Bersama Ed Hoornik 1953/Dokumentasi PDS H.B. Jassin

 

Penghargaan yang Diterima Pramoedya Ananta Toer

 

Pramoedya Ananta Toer/Dokumentasi PDS H.B. Jassin
  • Balai Pustaka untuk Perburuan, tahun 1951
  • Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) untuk Tjerita dari Blora diberikan oleh Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN), 1953
  • Sastra Nasional BMKN untuk Tjerita dari Blora, diberikan oleh BMKN, 1957
  • Yamin Foundation untuk Orang – orang dari Banten Selatan (ditolak oleh Pramoedya, diberikan oleh Yamin Foundation, 1957
  • Aadopteed Member of The Nederlands Center of P.E.N International, Belanda, 1978
  • Honorary Member of The Japan Center of P.E.N International, Jepang, 1978
  • Honorary Life Member of The International P.E.N Australia Center, Australia, 1982
  • Honorary Member of P.E.N Center Sweden, Swedia, 1982
  • Honorary Member of P.E.N, American Center, Amerika Serikat, 1987
  • Deutschsweizeruches P.E.N member, Zentrum, Swiss, 1989
  • The Fund for Free Expression , New York, Amerika Serikat, 1989
  • International P.E.N English Center Award, Inggris, 1992
  • Wertheim Award, “for his meritorious services to the struggle for emancipation of Indonesian people.”, Wertheim Foundation, Leiden, Belanda, 1995
  • Ramon Magsaysay Award, “for Journalism, Literature and Creative Arts, in Recognition of his illuminating with brilliant stories the historical awakening, and modern experience of the Indonesian people.” Ramon Magsaysay Award Foundation, Manila, Filipina, 1995
  • UNESCO Madanjeet Singh Prize, “in recognition of his outstanding contribution to the promotion of tolerence and non-violence.” UNESCO, Paris, Prancis 1996
  • Doctor of Humane Letters, ‘in recognition of his remarkable imagination and distinguished literary contributions, his example to all who oppose tyranny, and his highly principled struggle for intellectual freedom.”
  • Universitas Michigan, Madison, Amerika Serikat, 1999
  • Chanceller’s Distinguished Honor Award, “for his outstanding literary archievements and for his contribution to etnic tolerence and global understanding.” Universitas California, Berkeley, Amerika Serikat, 1999
  • Chevalier de I’Ordre des Arts et des Letters, dari Le Ministrs, de la Culture et de la Communication Republique Francaise Paris, Prancis 1999
  • International P.E.N Award Association of Writers Zentrum Deutschland, Jerman, 1999
  • New York Foundation for the Arts Award New York, Amerika Serikat, 2000
  • Fukuoka Cultural Grand Prize, Jepang, 2000
  • The Norwegian Authors Union, Norwegia, 2004
  • Centario Pablo Nerulda Republica de Chile, Chile, 2004

 

Film Adapatasi dari Novel Bumi Manusia dan Perburuan

Paska Reformasi, kondisi sosial, budaya dan politik Indonesia perlahan membaik. Karya-karya Pramoedya secara runut sampai hari ini dapat dinikmati, dipahami dan dipelajari sebagai alternatif peta sejarah Indonesia.

Paling terbaru, dua karya Pramoedya berjudul Perburuan dan Bumi Manusia diangkat menjadi Film layar lebar dengan judul yang sama. Film bertemakan drama sejarah Indonesia ini rilis pada saat yang bersamaan pada 15 Agustus 2019.

Poster Film Perburuan dan Bumi Manusia/foto Falcon Pictures (Falconpictures)

Apresiasi patut diberikan kepada Richard Oh yang berani menyutradari film yang diangkat dari Novel sejarah, Perburuan yang diterbitkan tahun 1950 dan memenangkan Sayembara Mengarang Roman yang diselenggarakan Balai Pustaka ketika itu.

Apresiasi juga patut diberikan kepada Hanung Bramantyo dan penulis skenario Salman Aristo yang berhasil menerjemahkan teks novel Bumi Manusia, mengalihwanakan jadi sebuah karya Film bertemakan drama biografi Sejarah.

Film ini diangkat dari kisah salah satu novel karya Pramoedya Ananta Toer berjudul Bumi Manusia, bagian dari Tetralogi Pulau Buru. Pram menuliskan novel ini ketika mengalami masa pembuangannya di Pulau Buru, pada Agustus 1969 hingga November 1979.

Di Pulau inilah Bumi Manusia tercipta. Novel ini adalah bagian pertama dari empat novel yang terangkai dalam Tetralogi Pulau Buru. Tiga bagian lainnya berjudul Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

Tetralogi Pulau Buru menghadirkan tokoh utama bernama Minke yang lantang bersuara melawan kekuasaan kolonial Belanda. Sikap dan pandangan Minke melawan ketidakadilan kekuasaan kolonial Belanda dianggap sebagai sikap dan pandangan Pramoedya.

Tertalogi Pulau Buru ditulis berdasarkan kehidupan seorang tokoh dalam sejarah Indonesia yaitu R.M. Tirto Adhisoerjo, namun pikiran, sikap dan perlawanan tokoh Minke terhadap kekuasaan kolonial Belanda, merupakan hasil rekaan Pramoedya.

Tokoh utama Minke digambarkan oleh Pramoedya sebagai sosok manusia modern yang bebas, pengagum kebudayaan Eropa, tabah, berterus terang, melawan ketidakadilan.

Sebagai manusia modern ketika itu, Minke memahami budaya Eropa melalui pendidikan di HBS dan STOVIA serta bergaul dengan beberapa orang terpelajar seperti Juffrouw Magda Peters (Guru di HBS Surabaya), keluarga Asissten Residen Kota B, Hebert de la Croix dan kedua anaknya, Miriam dan Sarah, Kommer dan Ter Haar (wartawan) dan Dauwager (Pegawai di Surat kabar Medan).

Namun demikian, Minke menyadari dirinya sebagai seorang Pribumi memiliki kemauan keras untuk membebaskan rakyat Hindia dari perbudakan, perhambaan, kekuaasaan kolonial Belanda dengan mendirikan organisasi modern Syarikat Priyayi (1906) dan mendirikan surat kabar pribumi berbahasa Melayu bernama Medan(1906) (Pramoedya, Jejak Langkah, 2015 : 299-302 dalam Melawan Tradisi: Pemberontakan Pramoedya Ananta Toer Terhadap Tradisi Priyayi Jawa dan Perlawanan Terhadap Kekuasaan Kolonial Belanda dalam Tetralogi Bumi Manusia, karya IG. Krisnadi)

Di Film ini tokoh Minke diperankan oleh Iqbaal Ramadhan. Film ini sempat meraih perolehan jumlah penonton terbanyak selama dua minggu berturut-turut, berhasil menjaring 1.316.583 penonton hingga akhir penayangannya di bioskop seluruh Indonesia. Film ini mendapatkan apresiasi positif hingga dinominasikan di dua belas kategori Festival Film Indonesia 2019.

Artikel terkait Pramoedya Ananta Toer Lainnya

Lutfi Dananjaya
Penulis Lepas. Alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjajaran.

Reda Gaudiamo
Seniman dan Sastrawan. Penulis novel “Na Willa“.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.